Rabu, 26 Juni 2019

Fatahillah

Generasi Shalahuddin

@edgarhamas

#TodayInHistory situs islamstory.com yang diasuh langsung oleh Dr Raghib Sirjani hari ini memberikan satu informasi penting dalam rubrik "Hadatsa fii Mitsli Hadzal Yaum" (Hari ini dalam sejarah). Peristiwa itu terjadi tepat pada 22 Juni 492 tahun yang lalu. Hari dimana seorang mujahid yang ulama, pemimpin yang faqih agamanya bernama Fatahillah membebaskan Sunda Kelapa dari Portugis lalu menamakan kota itu dengan Jayakarta, "Madinatun Nashr", Kota Kemenangan.

Sejarawan Arab banyak yang mengagumi Fatahillah dan aksi heroiknya membebaskan kota yang kelak akan menjadi ibukota Indonesia itu. Sampai-sampai Wikipedia Arab pun mengabadikan tanggal 22 Juni dengan catatan kemenangan Fatahillah.
.
"1527 - فتح الله طرد البرتغاليين من ميناء سوندا كيلابا(جاكرتا الآن)، الذي يحتفل به الآن كذكرى انشاء المدينة"
.
(1527 - Fatahillah mengusir penjajah Portugis dari pelabuhan Sunda Kelapa —sekarang Jakarta— yang diperingati sekarang sebagai hari jadi kota tersebut)

Pertanyaan yang masih sering diteliti jawabannya oleh para sejarawan adalah; Siapakah Fatahillah sebenarnya? Karena riwayat tentangnya berjubel dengan kisah-kisahnya yang berbeda. Ada yang bilang beliau adalah Sunan Gunung Jati, ada juga yang bilang —dan ini dianggap paling benar— bahwa Sunan Gunung Jati dan Fatahillah adalah orang yang berbeda, namun keduanya ada hubungan kekeluargaan.

Ada yang bilang bahwa beliau asli orang Pasai, kemudian Portugis menjajah negerinya sehingga ia hijrah ke Makkah. Dari Makkah beliau menimba ilmu lalu kembali lagi ke Jawa menuju Demak. Lalu ada juga yang bilang bahwa Fatahillah adalah putra Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.

Namun yang disepakati oleh semuanya adalah, bahwa Fatahillah merupakan seorang Ulama yang Umara, seorang pemimpin militer yang juga dalam pemahamannya tentang Islam. Ketika ia tahu Portugis menjajah Sunda Kelapa atas persetujuan Kerajaan Padjajaran, beliau sadar bahwa akibatnya akan sangat parah bagi eksistensi penduduk Nusantara.

Itulah yang membuat beliau berangkat dari Demak atas perintah Sultan Trenggono bersama 1500 mujahid dengan 20 kapal perang Jawa. Di saat yang sama, di Sunda Kelapa Alfonso de Albuquerque telah mengirimkan pasukan di bawah komando Francisco de Sa. Portugis hanya menyiapkan 6 kapal tempur, namun jenis kapal mereka yang merupakan Galleon masing-masingnya berbobot 800 ton dengan 21-24 pucuk meriam, lengkap dengan 600 awal profesional.
.
Pertarungan sengit antara Fatahillah versus armada laut Portugis yang juga didukung angkatan bersenjata Kerajaan Padjajaran membuat langit Sunda Kelapa penuh kelabu. Pada akhirnya atas izin Allah, Fatahillah dan mujahid Demak juga Banten berhasil menumpas armada Portugis. Hari itu adalah 22 Juni 1527.
.
Kemenangan di Sunda Kelapa membuat Fatahillah dipercaya sebagai gubernur di sana dan digantilah kota itu dengan nama Jayakarta. Sejak awalnya Jakarta memang sudah erat kaitannya dengan perjuangan dan deras arus islami yang membuka kota itu dari penjajahan.
.
Sosok seperti Fatahillah mengingatkan kita dengan pahlawan-pahlawan kita yang senarasi dan sefrekuensi dengannya seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Hasanuddin. Heroisme di medan tempur, kecerdasan memanajemen manusia dan faqih dalam agamanya ternyata bukanlah ilusi. Negeri kita pernah melahirkan manusia-manusia hebat itu dan akan selalu mampu menciptakan yang lebih besar.
.
Kelak di masa depan, barangkali gelombang perubahan zaman akan menuntut lagi lahirnya Fatahillah Fatahillah baru yang akan memecah kesunyian, di saat Umat menunggu sang Fajar dan tersudutkan. Atau barangkali, Fatahillah itu sudah ada; kamu. Tinggal sedikit polesan saja hingga kamu siap menciptakan arus perubahan.

Sabtu, 15 Juni 2019

Ibnu bathutah

Sumber Gambat: Gen saladin

Ibnu Bathuthah. Sang Traveller Muslim dari Timur Pada Abad Pertengahan.

Kontributor : @randika.fr
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin
.
Namanya adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawaty Ath-Thanji.
Ibnu Bathuthah lahir dan tumbuh di Thanjah (Tangier) maroko tahun 703 H, bertepatan dengan tahun 1304 M. Pada tahun 725 H, ia meninggalkan negerinya, berkeliling di negeri-negeri seperti Maroko, Mesir, Syam, Hizaz, Irak, Persia, Yaman, Bahrain, Turkistan, sebagian wilayah India, Cina, Tartar, Afrika tengah, dan lainnya, bahkan sampai ke Jawa (Nusantara).
.
Sebenarnya banyak pengembara Muslim di negeri-negeri Islam dan Arab. Salah satunya yang tengah saya ceritakan ini, pengembara terkenal, Ibnu Bathuthah, sama Halnya dengan pelancong Magellan, Christopher Columbus dan lainnya di dunia barat.

Dalam rihlahnya itu, Ibnu Bathuthah bertemu dengan banyak raja dan penguasa, ia kerap kali memuji mereka dengan bait-bair syair. Salah satunya, penguasa yang ia temui ialah Sultan Samudera Pasai, yang bernama Sultan Malik Azh-Zhahir. Kemudian ia tinggal di Aceh selama 15 hari, dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Cina.

Perjalanan Ibnu Bathuthah mengelana ke 44 negara-negara Islam dan sekitarnya, tidak lepas dari bantuan para penguasa yang menyediakan sarana, transportasi dan aneka pelayanan. Rihlahnya menghabiskan waktu selama 27 tahun, mulai tahun 1325 hingga 1352.

Saat kembali ke Maroko, ia kemudian mendiktekan catatan dan kisah perjalanannya untuk ditulis ulang oleh Muhammad Ibnu Juzai Al-Kalbi di Kota Fez pada tahun 756 H. Bukunya diberi judul: "Tuhfah An-Nuzhzhaar fi Gharaa'ib Al Amshaar wa 'Ajaa'ib Al-Asfaar". Catatan perjalanannya telah diterjemahkan ke perlbagai bahasa asing; Inggris, Prancis, dan Portugis dan lainnya.

Perlu kita ketahui bahwa Universitas Camrbridge dalam buku dan atlas terbitannya menyematkan kepada Ibnu Bathuthah sebuah gelar "Pemimpin pelancong Muslim". Ibnu Bathuthah meninggal di Marakesh tahun 779 H, bertepatan dengan 1369 M.
.
."Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Sumner : @gen.saladin

STASIUN TUNTANG

                                        STASIUN TUNTANG         Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...