Rabu, 27 Agustus 2025

Situs Liyangan

Temanggung


Setelah dari Situs Liyangan, aku dan adikku mampir ke Masjid Agung Darussalam Temanggung. Di sana, aku melaksanakan salat Asar, lalu pergi mencari makan. Pusat Kota Temanggung terasa cukup sejuk untuk ukuran pusat kota. Kendaraan tidak terlalu banyak, akan tetapi aktivitas masyarakatnya cukup sibuk. Banyak anak sekolah, penjual yang berjejer, orang tua yang berjalan santai, ada yang bermain seperti golf, dan ada remaja yang bermain skateboard.

Setelah salat, aku berjalan ke alun-alun. Alun-alunnya terasa cukup kecil dibandingkan dengan Magelang. Akses parkir juga cukup sulit. Setelah berjalan cukup jauh, aku mendapati seseorang yang berjualan dawet khas Temanggung. Aku tidak tahu apa bedanya dengan dawet yang lain, tetapi yang jelas rasanya enak. Dengan harga Rp8.000 untuk dawet campur dan Rp5.000 untuk dawet ayu, harganya cukup murah. Tapenya enak... bikin ketagihan, sebenarnya, hehehe.

Temanggung cukup nyaman untuk dikunjungi. Dibilang ramai juga tidak, dibilang sepi juga tidak. Pasar Ngadirejo juga cukup ramai... suasananya sangat sejuk... kapan-kapan akan kembali ke sini, hehehe.

 

SITUS LIYANGAN

Magelang, 27 September 2025

 



Hari ini, aku mengajak adikku untuk pergi ke sebuah situs peninggalan Mataram Kuno. Namanya Situs Liyangan. Situs ini berada di Desa Liyangan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Kurang lebih perjalanannya sekitar satu jam tiga puluh menit dari rumah, menggunakan sepeda motor Vixion tua dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam.

Perjalanannya sangat santai. Dengan bantuan Google Maps, aku sampai di tempat dengan selamat, meskipun sempat salah jalan dua kali. Begitu sampai di sana, tempatnya sangat indah, seindah desa di pegunungan pada umumnya. Letaknya dekat dengan Dieng dan berada di bawah Gunung Sindoro. Warga desanya ramah-ramah, dan rumah-rumahnya juga bagus-bagus. Sepertinya, desa yang makmur. Di atas desa terdapat penambangan pasir; tidak terlalu besar sebenarnya, tetapi cukup besar untuk tempat yang dulunya adalah situs candi.

Situs candi itu bernama Liyangan, diambil dari nama tempat candi itu ditemukan. Dengan luas sekitar dua hektar, situs kuno itu meninggalkan berbagai peninggalan dari masa Mataram Kuno, seperti lingga, yoni, dan candi. Di sekitar situs tersebut juga terdapat mata air yang sangat jernih. Tak heran jika tempat ini menjadi pusat peradaban pada masanya.

Aku di sana hanya sekitar satu jam. Suasana di sana sangat sepi; hanya ada satu penjaga, aku, adikku, dan dua orang pengunjung lain. Situs ini memang kurang terkenal. Baru ditemukan pada tahun 2008, lalu dilakukan ekskavasi dari tahun 2010 sampai sekarang. Tidak ada tiket masuk di sini. Uang parkir pun tidak aku bayar sama sekali.

Setelah mengelilingi situs ini cukup lama, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Purwosari dan... ya, aku lupa. Hehehehe.

 

STASIUN TUNTANG

                                        STASIUN TUNTANG         Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...