Candi Gedong Songo
Magelang, 29 November 2025
Aku dan temanku mengunjungi Kabupaten Semarang. Tepatnya Candi Gedong Songo, tepat di bawah kaki Gunung Ungaran. Harga tiket masuknya cukup murah, Rp15.000 untuk satu orang. Jadi, kami membayar Rp30.000 untuk dua orang. Perjalanannya cukup unik dan seru karena ini pertama kali kami mengunjungi Kecamatan Bandungan. Tempat ini jadi salah satu destinasi wisata murah meriah dengan akses jalan yang sangat bagus.
Perjalanan kami diawali dari Magelang, tepatnya dari desa kami Sonorejo, kurang lebih pukul 10.00 pagi. Kami melewati kota terlebih dahulu untuk mengisi bahan bakar. Karena kami buta daerah yang akan kami kunjungi, jadi kami memutar arah terlebih dahulu, sehingga perjalanan kami menjadi lebih lama sekitar 30 menit. Kami menggunakan bantuan Google Maps karena kami benar-benar tidak tahu akses jalan ke sana. Dengan Google Maps, kami diarahkan melalui jalan yang terpendek, tetapi juga terburuk karena melewati daerah yang jauh dari permukiman. Bahkan, jalannya ada yang sangat jelek karena benar-benar jalan yang jarang diakses.
Sebelum Ambarawa, kami belok kiri melalui jalur alternatif Sumowono, melewati SMPN 2 Ambarawa yang benar-benar indah. Lalu, kami melewati makam dan kandang ayam. Di sinilah kami melewati jalan yang sangat jelek karena sudah benar-benar rusak parah, tetapi sekitar 100 meter sudah terlihat jalur utama Semarang-Temanggung. Ya, perjalanannya setelah itu sangat mulus dan indah, dan tentu saja menanjak terus dikarenakan Candi Gedong Songo terletak di ketinggian dan tepat di bawah kaki Gunung Ungaran.
Sesampainya di sana, kami diarahkan ke parkiran motor. Cukup senggang waktu itu, tidak banyak pengunjung padahal weekend. Ya, kami beruntung, hehehe. Setelah memarkirkan motor, aku dan temanku bergegas naik ke outlet dan ternyata cukup murah, hehehe. Kukira Rp50.000. Sangat sepadan, bahkan lebih dari ekspektasi kami berdua. Setelah menyelesaikan pembayaran dengan uang tunai, kami masuk lewat outlet, dibantu dengan penjaga gerbang bapak-bapak yang sudah berumur. Kami masuk dan wow, sangat indah, bersih, dan tertata. Kami naik ke atas dan langsung bertatapan dengan candi yang pertama. Sambil berjalan ke atas untuk mendekati candi yang pertama, kami sempatkan untuk menoleh ke belakang dan Gong!!! Pemandangannya sangat menakjubkan, terlihat banyak sekali gunung di belakangnya.
Kompleks Candi Gedong Songo cukup luas, kami berasa hiking. Perjalanan dari candi ke candi cukup jauh dan menanjak, tapi di sinilah serunya! Naik dengan pepohonan yang rindang dan juga terdapat warung-warung yang menjual makanan di pinggir jalan ke candi. Harga makanannya juga normal untuk tempat wisata. Sebenarnya, ada dua opsi untuk menikmati Candi Gedong Songo: bisa menggunakan kuda atau berjalan kaki. Tentu, untuk kami yang berwisata dengan budget yang murah, kuda bukanlah pilihan yang tepat. Berjalan kaki adalah opsi yang sangat tepat karena kami dapat mengeksplorasi tempat-tempat yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Perjalanan dari candi ke candi cukup melelahkan bagi kami yang jarang berjalan kaki. Kami berjalan kaki sekitar satu jam lebih untuk menikmati dan mengabadikan semua candi. Yang unik dari kompleks Gedong Songo adalah terdapat pemandian air panas dan terdapat kawah yang masih aktif di dekat pemandian. Bahkan, dari jarak yang cukup jauh sudah tercium bau belerang.
Kami berjalan dari bawah selatan sampai di candi paling jauh, yaitu candi ke-5, candi yang paling jauh terlihat dari bawah atau tepatnya dari candi pertama. Kami memutuskan untuk rehat sejenak di candi ke-5 ini. Terlihat dari arah sini Rawa Pening dan Ambarawa... Sangat indah dan menakjubkan. Salah satu pemandangan terindah yang pernah kami temui. Setelah puas di atas, kami memutuskan turun lewat tangga, setapak demi setapak, sampai di tempat awal kami naik. Kami sangat puas dan kami segera turun ke parkiran untuk mengambil motor dan melanjutkan perjalanan kami ke Ambarawa.
Destinasi ke-2 adalah Ambarawa, Kota Pahlawan atau juga Kota Militer. Kotanya tidak besar, cukup kecil. Sebenarnya, aku juga tidak tahu apakah Ambarawa termasuk kota atau hanya kecamatan biasa. Di sini, kami melewati Alun-alun Bandungan. Bagi kami, tidak terlihat seperti alun-alun, hanya seperti taman kecil di tengah persimpangan. Kami menuju ke Pasar Ambarawa untuk mencari makanan karena kami belum makan dari pagi. Jadi, kami memutuskan untuk mengganjal perut di sini. Setelah keliling pasar dan tidak ada pilihan yang enak, kami memutuskan untuk membeli sate dari ibu-ibu yang berjualan tepat di depan Pasar Ambarawa. Dengan harga Rp10.000 per porsi, cukup untuk mengganjal perut yang lapar. Sambil makan dan istirahat sebentar, kami memutuskan untuk balik ke Magelang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar