Senin, 08 Juli 2019


Legenda Guru Besar Kota Nabi

Kontributor :
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin

Malik bin Anas bin Amr al-asbahi lahir di Madinah tahun 93 Hijriah atau tahun 714 Masehi, leluhurnya berasal dari Yaman, namun kakeknya menetap di Madinah setelah memeluk islam.

Lahir dikeluarga yang berkecukupan, Imam Malik tak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia amat tertarik dalam mempelajari Islam dan memutuskan untuk menjadikan seluruh hidupnya untuk mempelajari ilmu fiqih. Imam Malik mengenyam pendidikan di Madinah dan tinggal dengan para pengikut serta sahabat setia Nabi Muhammad ﷺ.

Imam Malik mencari sebanyak 300 tabi'in bahkan lebih serta mereka para pengikut setia dan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, beliau mengumpulkan hadits dari Nabi Muhammad ﷺ. Sebagai bentuk penghormatan terhadap hadits yang tidak beliau riwayatkan sendiri maka tiap hendak menyampaikan sebuah hadits atau fatwa beliau selalu menyucikan diri dan niatnya terlebih dahulu sambil mengucap "laa hawlawala quwata illa billah".

Beliau tidak pernah memberikan fatwa tanpa mengucapkan hal tersebut terlebih dahulu.  Beliau pun tidak segan untuk berkata tidak tahu atau memilih diam ketika ragu akan jawaban dari suatu hal yang ditanyakan padanya.

Imam Malik adalah penyusun dari buku Al-Muwatta', tersusun dari sanad yang berasal dari Nabi Muhammad ﷺ beserta dengan perkataan para sahabatnya, pengikutnya serta mereka yang datang setelahnya. Imam Malik berkata, "Aku telah menunjukkan bukuku pada 70 ulama Madinah, dan tiap-tiap dari mereka menyetujuinya, maka aku namakan bukuku Al-Muwatta' (yang disetujui)". Imam Malik menyusun buku tersebut selama 40 tahun.

Beliau sangat karismatik, badannya tinggi besar, berambut pirang, berkulit putih serta bermata biru seperti bukan penduduk Madinah. ketika kamu melihatnya tanpa mengetahui bahwa beliau adalah seorang imam, maka penampilannya akan mendorong suatu perasaan dalam dirimu untuk menghormatinya.

Dalam bahasa Arab, hal tersebut dinamakan aura. Tidak ada yang lebih berat dalam hidupnya melebihi sebuah pertanyaan tentang halal dan haram, karena beliau sedang merepresentasikan tentang aturan Allah di muka bumi.

Imam Malik menghabiskan seluruh hidupnya di Madinah yaitu kotanya Nabi Muhammad ﷺ, beliau hidup hingga usia 90 tahun. Ia tak pernah meninggalkan Madinah kecuali hanya untuk melaksanakan haji dan umrah. Tak hanya itu saja, selain beliau tak pernah meninggalkan kota Madinah, beliau juga tak pernah mengendarai unta atau segala macam alat transportasi.
.
Karena cinta dan hormatnya beliau kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagai seorang ulama Madinah sudah sepantasnya ia tak mengangkat kakinya dari tanah dimana Nabi Muhammad ﷺ dimakamkan.
.
Saking besar cintanya terhadap Nabi Muhammad ﷺ, menjadikan beliau amat menjaga kota Madinah dimana Nabi ﷺ bersemayam bahkan hanya sekedar memakai alas kaki saja beliau tidak berkenan, tekadnya untuk selalu menapakkan kaki ditanah Nabi beliau jaga hingga akhir usia dan ketika hendak buang hajat saja beliau harus keluar dari kota Madinah terlebih dahulu.
.
Terkenal akan kesalehan dan integritasnya, ia berani berdiri tegak dan siap menderita demi keyakinannya. Ketika gubernur dari Madinah menuntut dan memaksa rakyatnya untuk bersumpah setia pada Khalifah Al-Mansur, Imam Malik memberikan fatwa bahwa sebuah sumpah tidak akan memiliki ikatan jika dilakukan di bawah paksaan. Perkataannya di sandarkan pada sebuah hadits yang berbunyi, "Perpecahan yang terjadi dari sebuah keterpaksaan tidak akan menimbulkan efek apapun".
.
Hal ini menyebabkan banyak orang menyatakan perbedaannya terhadap pemerintah, namun akhirnya Imam Malik ditangkap, dinyatakan bersalah atas penentangannya dan dicambuk didepan umum.
.
Para murid serta pengikut dari Imam Malik mengembangkan sekolah fiqih, Mahzhab, yang berdasar atas ijtihadnya yang kemudian dikenal dengan sebutan Mahzhab Maliki. Mahzhab ini menyebar di Afrika utara, Al-andalus, banyak tersebar di Mesir, beberapa wilayah di Syam, Yaman, Sudan, Irak dan Khurasan. Saat ini banyak tersebar di Afrika bagian utara dan bagian barat, Mesir, Sudan , dan bagian timur dari

Sabtu, 06 Juli 2019

Aljazair sejarah islam

Generasi Shalahuddin
Rahasia Aljazair






"Dengan takluknya Aljazair di tangan Prancis, kita telah membentangkan jalan kepada Paus untuk membuka gerbang kristenisasi Afrika."
—Victor de Ghaisne de Bourmont, Jenderal Militer Prancis

Jarang-jarang kita mendengar tentang Afrika Utara, apalagi tentang sebuah negeri bernama Aljazair. Paling mentok, mungkin kita hanya akan ingat bahwa Aljazair adalah negara asal Zinedine Zidane. Padahal, dalam sejarah Umat Islam, negeri ini adalah salah satu potongan penting yang hilang dari puzzle sejarah kita.

Tidak banyak yang tahu, bahwa Umat Islam selama abad keemasannya menjadi polisi samudera internasional yang tak hanya menjaga negeri Arab. Umat ini juga menjaga keamanan maritim dunia. Negeri Aljazair adalah saksi bisu dari kehebatan itu.

Dalam sejarah Eropa abad pertengahan, Aljazair digambarkan oleh mereka sebagai markas bajak laut (Pirates) yang menghadang kapal dagang kerajaan-kerajaan Eropa. Padahal sebenarnya, di bawah kepemimpinan Kekhalifahan Utsmaniyah, Aljazair disulap menjadi pusat Armada Laut Utsmani yang legendaris. Bukan markas perompak laut sebagaimana Eropa gambarkan.

Negara-negara besar saat itu; Prancis, Austria, Prussia, Russia dan Britania membayar pajak tahunan pada Kekhalifahan Utsmaniyah sebagai jaminan keamanan, dan Aljazair menjadi sentral kekuatannya. Tercatat, Prancis termasuk negeri yang tidak bisa membayar hutang pada Aljzair.

Maka Prancis meminta bantuan poros Eropa untuk berkonsolidasi dalam Kongres Aix-la-Chapelle tahun 1818. Mereka berjanji menjaga soliditas sebagai kekuatan yang harus menjaga Eropa dari dominasi dakwah Kekhalifahan Utsmaniyah.

Bermula dari situlah, Prancis kemudian berabad-abad setelahnya baru bisa menumpahkan balas dendamnya pada Aljazair ketika keadaan Kekhalifahan Utsmaniyah mulai melemah. Eropa mulai maju dengan teknologi canggih dan industri mereka yang didapat dari kekayaan hasil menjajah negeri-negeri muslim.

Prancis masuk ke Aljazair dan melakukan invasi, merobohkan 112 masjid di ibukota Aljazair dan menjadikan 5 sisanya jadi barak tentara Prancis. Salah satu kisah masyhur dalam sejarah Aljazair yang membuka mata kita akan kezaliman imperialisme Prancis adalah kisah 800 penduduk salah satu desa yang bersembunyi di goa demi menyelamatkan diri mereka dari keganasan artileri Prancis.
.
Ketika serdadu Prancis menemukan goa itu, mereka membakar habis semua yang ada di dalamnya hingga tak tersisa satupun manusia yang hidup. Ketika api sudah lenyap, beberapa anak muda melihat sendiri apa yang terjadi dalam goa itu. Dilihatnya semua jasad sudah menjadi gosong, bahkan terlihat mayat seorang ibu yang terbakar sambil memeluk anaknya.
.
Dan kamu masih menganggap Prancis sebagai negara yang menjunjung tinggi "liberte, egalite, fraternite."
.
Di tengah-tengah kecamuk serangan Prancis itulah, muncul seorang pemimpin gerilya yang membuat tentara musuh mengalami kekalahan demi kekalahan. Usianya masih muda, 26 tahun, namun sudah memimpin perlawanan rakyat atas penjajahan Prancis di Aljazair. Namanya adalah Abdul Qadir Al Jaza'iry.
.
Abdul Qadir Al Jaza'iry melakukan serangkaian serangan intensif yang mengagetkan, menghancurkan barak-barak musuh dan membuat Prancis mengganti jenderal mereka berkali-kali. Salah satu taktik Amir Abdul Qadir adalah "The Shifting Capital", berkali-kali memindahkan ibukota Aljazair dari kota satu ke kota lainnya agar Prancis tak bisa mendeteksi dimana sumber kekuatan utama Kaum Muslimin.
.
Namun begitulah musuh-musuh Allah. Mereka tidak bisa berperang dengan gentle. Lagi-lagi cara mereka adalah dengan membakar desa demi desa, membantai distrik demi distrik agar memaksa Abdul Qadir Al Jaza'iry menampakkan jati dirinya.
.
Pada 23 Desember 1847, Abdul Qadir Al Jaza'iry ditangkap oleh militer Prancis, namun perlawanan terus berlanjut. Sang pemimpin kharismatik ini diasingkan ke penjara di Prancis, dan setelah beberapa tahun dibebaskan dengan syarat beliau tidak boleh kembali ke tanah airnya. Abdul Qadir pada akhir hidupnya berhijrah ke Damaskus. Namun, sebuah episode di akhir hidupnya akan membuat kita tahu betapa agungnya Islam.
Di Damaskus, suatu ketika pecah pertikaian antara Kaum Nasrani dan sekte sesat Druze. Banyak orang-orang Nasrani yang dibantai oleh sekte ini. Namun Abdul Qadir Al Jaza'iry menjadikan rumahnya sebagai markas perlindungan kaum Nasrani dari serangan sekte sesat tersebut. Ia melindungi mereka, walaupun dulu Prancis telah membunuh orang-orang yang ia cintai di Aljazair.
.
Ini barangkali salah satu episode sejarah yang sangat jarang kita dengar dan baca. Dan dunia memang tak ingin kita mengingatnya.

Source :
— مائة من عظماء أمة الإسلام غيروا مجرى التاريخ
— Phillips, Walter Alison (1911). "Aix-la-Chapelle, Congresses of". In Chisholm, Hugh. Encyclopædia Britannica. 1 (11th ed.). Cambridge University Press.
— Hanioğlu, M. Şükrü (2010). A Brief History of the Late Ottoman Empire. Princeton University Press. pp. 9–10, 69. ISBN 1-4008-2968-2.

STASIUN TUNTANG

                                        STASIUN TUNTANG         Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...