Sabtu, 10 Januari 2026

Rejepan

Semarak Rejepan di Lereng Merbabu

Kamis, 8 Januari 2026


 


Tentang Rejepan Rejepan adalah sebuah tradisi yang lazim digelar menjelang tanggal 20 bulan Rajab, tepatnya pada hari Kliwon. Tradisi ini hidup dan lestari di kawasan pegunungan, khususnya di lereng Merbabu. Sekilas, suasananya mirip tradisi Ujung saat Idulfitri, namun Rejepan terasa jauh lebih meriah karena diselingi berbagai hiburan pentas seni. Perbedaan mendasarnya terletak pada etika berkunjung; jika saat lebaran kita bisa bebas bersilaturahmi, pada tradisi Rejepan, rumah yang kita kunjungi adalah rumah kerabat atau kawan yang secara khusus telah mengundang kita.

Perjalanan Menembus Malam Hari ini, aku menyusuri berbagai tempat di daerah Pakis dan Sawangan untuk memenuhi undangan kawan maupun saudara. Rejepan kali ini sungguh semarak. Segala jenis hidangan tersaji, mulai dari makanan berat, buah-buahan segar, hingga aneka gorengan yang menggugah selera. Setiap tuan rumah seolah berlomba menyuguhkan jamuan terbaik mereka bagi para tamu yang hadir.

Selepas Magrib, aku berangkat dari rumah membonceng Paman dengan sepeda motor. Matahari telah sepenuhnya pamit, digantikan oleh gelap malam. Kami melaju perlahan. Meski cahaya lampu motor kami tidak begitu terang, sorotnya cukup untuk mengawal perjalanan menyusuri jalanan desa. Semakin menanjak ke arah pegunungan, udara terasa kian dingin. Untungnya, jaket yang kami kenakan—meski tak terlalu tebal—cukup untuk melindungi tubuh dari hawa dingin yang mulai menusuk.

Lalulintas semakin ramai saat kami mendaki lebih tinggi. Kami berpapasan dengan banyak orang yang juga merayakan Rejepan. Di setiap kampung yang kami lewati, tampak kerumunan warga bersiap menggelar pentas kesenian dengan panggung-panggung yang megah. Cahaya lampu berpendar di mana-mana, gemerlap layaknya pasar malam dadakan. Para pedagang pun sudah berjajar rapi, menjajakan dagangan mulai dari mainan anak hingga kudapan.

Dusun Pucung: Perhentian Pertama Desa pertama yang aku singgahi adalah Pucung. Ini sudah kesekian kalinya aku mengunjungi desa dengan pemandangan indah dan hawa sejuk ini. Rumah saudara yang kutuju berada di ujung utara dengan akses jalan yang cukup menantang. Karena itu, aku memutuskan memarkir motor agak jauh agar lebih mudah saat hendak keluar nanti.

Di sana, Ibu dan saudara-saudaraku sudah menunggu. Sambutan hangat langsung kuterima begitu melangkah masuk, disusul jabat tangan dan perbincangan akrab. Di desa ini, aku mengunjungi dua rumah. Namun, karena malam kian larut dan masih ada beberapa tempat yang harus disambangi, aku segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Desa Segueng: Jalur Ekstrem yang Memikat Tujuan kedua adalah Desa Segueng. Jaraknya sebenarnya sangat dekat dari desa pertama, namun medannya jauh lebih ekstrem dengan jalanan curam, meski menyuguhkan pemandangan yang memukau. Secara administratif, desa ini berada di ujung timur laut Kecamatan Sawangan. Jadi, aku telah melintas dari Pakis menuju Sawangan. Sebuah perjalanan yang sungguh mengasyikkan.

Di sini, sambutan hangat kembali menyapa bahkan sejak dari halaman rumah. Teh hangat dan buah-buahan segera disuguhkan. Sebenarnya kami tak berencana ke sini, tetapi karena tadi berpapasan dengan sang pemilik rumah saat di Pucung, kami pun diminta mampir. Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di Segueng. Sama seperti sebelumnya, aku hanya sempat bertamu ke dua rumah sebelum kembali berpindah.

Desa Dompyong: Kemakmuran dan Kesenian Destinasi ketiga membawa kami kembali ke wilayah Pakis, tepatnya Desa Dompyong. Lokasinya sedikit lebih rendah dibanding dua desa sebelumnya. Dompyong terlihat sangat makmur; tingkat kesejahteraan penduduknya tampak tinggi. Keunikan desa ini terletak pada adanya kolam renang yang cukup besar dengan air dingin alami dan panorama yang indah.

Ini adalah titik kumpul terakhir saudara-saudaraku sebelum mereka pulang. Kami menyempatkan diri menonton pertunjukan kesenian unik bernama "Brondut" atau Kobra Dangdut—sebuah akulturasi seni tradisional yang dipadukan dengan alat musik dangdut modern. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Namun, aku harus pamit lebih awal karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, sementara masih ada satu janji yang harus kupenuhi. yaitu mengunjungi desa terakhir desa dimana teman masa sekolah dulu berada.

Desa itu bernama Wangkengan

Kamis, 01 Januari 2026

Candi Gedung Sanga

Candi Gedong Songo




Magelang, 29 November 2025

Aku dan temanku mengunjungi Kabupaten Semarang. Tepatnya Candi Gedong Songo, tepat di bawah kaki Gunung Ungaran. Harga tiket masuknya cukup murah, Rp15.000 untuk satu orang. Jadi, kami membayar Rp30.000 untuk dua orang. Perjalanannya cukup unik dan seru karena ini pertama kali kami mengunjungi Kecamatan Bandungan. Tempat ini jadi salah satu destinasi wisata murah meriah dengan akses jalan yang sangat bagus.


Perjalanan kami diawali dari Magelang, tepatnya dari desa kami Sonorejo, kurang lebih pukul 10.00 pagi. Kami melewati kota terlebih dahulu untuk mengisi bahan bakar. Karena kami buta daerah yang akan kami kunjungi, jadi kami memutar arah terlebih dahulu, sehingga perjalanan kami menjadi lebih lama sekitar 30 menit. Kami menggunakan bantuan Google Maps karena kami benar-benar tidak tahu akses jalan ke sana. Dengan Google Maps, kami diarahkan melalui jalan yang terpendek, tetapi juga terburuk karena melewati daerah yang jauh dari permukiman. Bahkan, jalannya ada yang sangat jelek karena benar-benar jalan yang jarang diakses.


Sebelum Ambarawa, kami belok kiri melalui jalur alternatif Sumowono, melewati SMPN 2 Ambarawa yang benar-benar indah. Lalu, kami melewati makam dan kandang ayam. Di sinilah kami melewati jalan yang sangat jelek karena sudah benar-benar rusak parah, tetapi sekitar 100 meter sudah terlihat jalur utama Semarang-Temanggung. Ya, perjalanannya setelah itu sangat mulus dan indah, dan tentu saja menanjak terus dikarenakan Candi Gedong Songo terletak di ketinggian dan tepat di bawah kaki Gunung Ungaran.


Sesampainya di sana, kami diarahkan ke parkiran motor. Cukup senggang waktu itu, tidak banyak pengunjung padahal weekend. Ya, kami beruntung, hehehe. Setelah memarkirkan motor, aku dan temanku bergegas naik ke outlet dan ternyata cukup murah, hehehe. Kukira Rp50.000. Sangat sepadan, bahkan lebih dari ekspektasi kami berdua. Setelah menyelesaikan pembayaran dengan uang tunai, kami masuk lewat outlet, dibantu dengan penjaga gerbang bapak-bapak yang sudah berumur. Kami masuk dan wow, sangat indah, bersih, dan tertata. Kami naik ke atas dan langsung bertatapan dengan candi yang pertama. Sambil berjalan ke atas untuk mendekati candi yang pertama, kami sempatkan untuk menoleh ke belakang dan Gong!!! Pemandangannya sangat menakjubkan, terlihat banyak sekali gunung di belakangnya.


Kompleks Candi Gedong Songo cukup luas, kami berasa hiking. Perjalanan dari candi ke candi cukup jauh dan menanjak, tapi di sinilah serunya! Naik dengan pepohonan yang rindang dan juga terdapat warung-warung yang menjual makanan di pinggir jalan ke candi. Harga makanannya juga normal untuk tempat wisata. Sebenarnya, ada dua opsi untuk menikmati Candi Gedong Songo: bisa menggunakan kuda atau berjalan kaki. Tentu, untuk kami yang berwisata dengan budget yang murah, kuda bukanlah pilihan yang tepat. Berjalan kaki adalah opsi yang sangat tepat karena kami dapat mengeksplorasi tempat-tempat yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.


Perjalanan dari candi ke candi cukup melelahkan bagi kami yang jarang berjalan kaki. Kami berjalan kaki sekitar satu jam lebih untuk menikmati dan mengabadikan semua candi. Yang unik dari kompleks Gedong Songo adalah terdapat pemandian air panas dan terdapat kawah yang masih aktif di dekat pemandian. Bahkan, dari jarak yang cukup jauh sudah tercium bau belerang.


Kami berjalan dari bawah selatan sampai di candi paling jauh, yaitu candi ke-5, candi yang paling jauh terlihat dari bawah atau tepatnya dari candi pertama. Kami memutuskan untuk rehat sejenak di candi ke-5 ini. Terlihat dari arah sini Rawa Pening dan Ambarawa... Sangat indah dan menakjubkan. Salah satu pemandangan terindah yang pernah kami temui. Setelah puas di atas, kami memutuskan turun lewat tangga, setapak demi setapak, sampai di tempat awal kami naik. Kami sangat puas dan kami segera turun ke parkiran untuk mengambil motor dan melanjutkan perjalanan kami ke Ambarawa.


Destinasi ke-2 adalah Ambarawa, Kota Pahlawan atau juga Kota Militer. Kotanya tidak besar, cukup kecil. Sebenarnya, aku juga tidak tahu apakah Ambarawa termasuk kota atau hanya kecamatan biasa. Di sini, kami melewati Alun-alun Bandungan. Bagi kami, tidak terlihat seperti alun-alun, hanya seperti taman kecil di tengah persimpangan. Kami menuju ke Pasar Ambarawa untuk mencari makanan karena kami belum makan dari pagi. Jadi, kami memutuskan untuk mengganjal perut di sini. Setelah keliling pasar dan tidak ada pilihan yang enak, kami memutuskan untuk membeli sate dari ibu-ibu yang berjualan tepat di depan Pasar Ambarawa. Dengan harga Rp10.000 per porsi, cukup untuk mengganjal perut yang lapar. Sambil makan dan istirahat sebentar, kami memutuskan untuk balik ke Magelang.

Sebelum Sadranan

 Malam Sebelum Sadranan




 

Hari ini merupakan hari sebelum Sadranan dimulai yang bertempat di rumah buyutku. Ya… rumah buyutku. Meskipun beliau sudah meninggal beberapa tahun lalu, keluarga kami tetap memperingati perayaan penyambutan bulan Ramadan yang sering kali diadakan pada bulan Rajab.

Seperti biasa, Bude dan Bulekku datang kemari untuk membantu memasak dan menyiapkan hidangan yang akan diantar ke rumah Buyut keesokan harinya. Mereka semua akan tidur di sini sampai hari Sadranan dimulai.

Hari ini hujan sangat deras, membuat suasana sangat sejuk sekaligus dingin. Hujan telah turun sedari sore hari sampai saat ini dan tidak berhenti. Sementara itu, pawon sudah mengepul sejak bakda Asar, membuat kehangatan di tengah hujan. Pawon merupakan dapur dalam bahasa Jawa, akan tetapi masih menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu.

Sadranan merupakan tradisi menyambut bulan Ramadan dengan acara doa bersama dan diakhiri dengan makan-makan. Penamaan Sadranan sendiri berbeda-beda di setiap tempat, begitu pula dengan cara pelaksanaannya. Tetapi, ada satu hidangan yang wajib dan pasti ada, yaitu ingkung. Ingkung adalah ayam kampung yang dimasak utuh tanpa memotong bagian apa pun.

Setiap daerah memiliki perbedaan, baik lokasi maupun tempat penyimpanan makanannya. Sering kali Sadranan dilakukan di makam masing-masing dusun dengan menggelar tikar di sampingnya. Akan tetapi, hal ini tidak akan ditemui di kampung halamanku karena ada mitos kalau tradisi ini dilakukan di makam, maka akan terjadi hujan. Sedangkan hal ini tidak terjadi di tempat kelahiran Buyutku; di sana Sadranan memang dilaksanakan di makam dan tidak terjadi hal aneh apa pun.

Tenong. Tenong merupakan alat penyimpanan makanan yang terbuat dari anyaman bambu. Seiring perkembangannya, masyarakat lebih memilih rantang karena lebih praktis, perawatannya mudah, dan juga tidak mudah rusak. Di kampungku, kebanyakan masih menggunakan tenong. Selain karena masih banyak yang punya, penggunaan tenong ini sekaligus untuk melestarikan budaya.

STASIUN TUNTANG

                                        STASIUN TUNTANG         Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...