Semarak Rejepan di Lereng Merbabu
Kamis, 8 Januari 2026
Tentang Rejepan Rejepan adalah sebuah tradisi yang lazim digelar menjelang tanggal 20 bulan Rajab, tepatnya pada hari Kliwon. Tradisi ini hidup dan lestari di kawasan pegunungan, khususnya di lereng Merbabu. Sekilas, suasananya mirip tradisi Ujung saat Idulfitri, namun Rejepan terasa jauh lebih meriah karena diselingi berbagai hiburan pentas seni. Perbedaan mendasarnya terletak pada etika berkunjung; jika saat lebaran kita bisa bebas bersilaturahmi, pada tradisi Rejepan, rumah yang kita kunjungi adalah rumah kerabat atau kawan yang secara khusus telah mengundang kita.
Perjalanan Menembus Malam Hari ini, aku menyusuri berbagai tempat di daerah Pakis dan Sawangan untuk memenuhi undangan kawan maupun saudara. Rejepan kali ini sungguh semarak. Segala jenis hidangan tersaji, mulai dari makanan berat, buah-buahan segar, hingga aneka gorengan yang menggugah selera. Setiap tuan rumah seolah berlomba menyuguhkan jamuan terbaik mereka bagi para tamu yang hadir.
Selepas Magrib, aku berangkat dari rumah membonceng Paman dengan sepeda motor. Matahari telah sepenuhnya pamit, digantikan oleh gelap malam. Kami melaju perlahan. Meski cahaya lampu motor kami tidak begitu terang, sorotnya cukup untuk mengawal perjalanan menyusuri jalanan desa. Semakin menanjak ke arah pegunungan, udara terasa kian dingin. Untungnya, jaket yang kami kenakan—meski tak terlalu tebal—cukup untuk melindungi tubuh dari hawa dingin yang mulai menusuk.
Lalulintas semakin ramai saat kami mendaki lebih tinggi. Kami berpapasan dengan banyak orang yang juga merayakan Rejepan. Di setiap kampung yang kami lewati, tampak kerumunan warga bersiap menggelar pentas kesenian dengan panggung-panggung yang megah. Cahaya lampu berpendar di mana-mana, gemerlap layaknya pasar malam dadakan. Para pedagang pun sudah berjajar rapi, menjajakan dagangan mulai dari mainan anak hingga kudapan.
Dusun Pucung: Perhentian Pertama Desa pertama yang aku singgahi adalah Pucung. Ini sudah kesekian kalinya aku mengunjungi desa dengan pemandangan indah dan hawa sejuk ini. Rumah saudara yang kutuju berada di ujung utara dengan akses jalan yang cukup menantang. Karena itu, aku memutuskan memarkir motor agak jauh agar lebih mudah saat hendak keluar nanti.
Di sana, Ibu dan saudara-saudaraku sudah menunggu. Sambutan hangat langsung kuterima begitu melangkah masuk, disusul jabat tangan dan perbincangan akrab. Di desa ini, aku mengunjungi dua rumah. Namun, karena malam kian larut dan masih ada beberapa tempat yang harus disambangi, aku segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Desa Segueng: Jalur Ekstrem yang Memikat Tujuan kedua adalah Desa Segueng. Jaraknya sebenarnya sangat dekat dari desa pertama, namun medannya jauh lebih ekstrem dengan jalanan curam, meski menyuguhkan pemandangan yang memukau. Secara administratif, desa ini berada di ujung timur laut Kecamatan Sawangan. Jadi, aku telah melintas dari Pakis menuju Sawangan. Sebuah perjalanan yang sungguh mengasyikkan.
Di sini, sambutan hangat kembali menyapa bahkan sejak dari halaman rumah. Teh hangat dan buah-buahan segera disuguhkan. Sebenarnya kami tak berencana ke sini, tetapi karena tadi berpapasan dengan sang pemilik rumah saat di Pucung, kami pun diminta mampir. Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di Segueng. Sama seperti sebelumnya, aku hanya sempat bertamu ke dua rumah sebelum kembali berpindah.
Desa Dompyong: Kemakmuran dan Kesenian Destinasi ketiga membawa kami kembali ke wilayah Pakis, tepatnya Desa Dompyong. Lokasinya sedikit lebih rendah dibanding dua desa sebelumnya. Dompyong terlihat sangat makmur; tingkat kesejahteraan penduduknya tampak tinggi. Keunikan desa ini terletak pada adanya kolam renang yang cukup besar dengan air dingin alami dan panorama yang indah.
Ini adalah titik kumpul terakhir saudara-saudaraku sebelum mereka pulang. Kami menyempatkan diri menonton pertunjukan kesenian unik bernama "Brondut" atau Kobra Dangdut—sebuah akulturasi seni tradisional yang dipadukan dengan alat musik dangdut modern. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Namun, aku harus pamit lebih awal karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, sementara masih ada satu janji yang harus kupenuhi. yaitu mengunjungi desa terakhir desa dimana teman masa sekolah dulu berada.
Desa itu bernama Wangkengan