Sabtu, 08 Februari 2020

Ummu Imarah Nusaibah Binti Ka’ab, Shahabiyah Pelindung Nabi Saat Perang Uhud

Ummu Imarah Nusaibah Binti Ka’ab, Shahabiyah Pelindung Nabi Saat Perang Uhud
.
Oleh : @dhafin21
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin

Dalam perjalanan sejarah, Umat Islam pernah mengalami fase pahit yang begitu memukul kondisi umat. Salah satunya adalah peristiwa jatuhnya Kaum Muslimin pada Perang Uhud dikarenakan ketidakpatuhan terhadap perintah Rasulullah ﷺ.

Sejarah juga mencatat pada perang tersebut banyak aksi heroik para sahabat yang dengan rela menjadi tameng hidup dalam melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan kaum musyrikin. Di antara kisah sahabat yang terkenal ialah keberanian Thalhah bin Ubaidillah RA melindungi Nabi sampai telapak tangan beliau tidak bisa difungsikan lagi.

Namun tahukah sahabat Gen.saladin, di antara para lelaki yang dengan gagah berani melindungi nabi, ternyata ada juga seorang shahabiyah yang berani mengambil peran tersebut. Shahabiyah pemberani tersebut bernama Ummu Imarah Nusaibah binti Ka’ab bin Amr bin Auf bin Mabdzul. Beliau merupakan seorang perempuan terhormat, mulia, dan pejuang agung dari kaum Anshar dari suku Khazraj.

Cahaya Islam masuk menerangi jiwa Ummu Imarah pasca peristiwa Baiat Al Aqabah pertama. Saat itu Rasulullah mengirim Mush’ab bin Umair, sang duta pertama islam, untuk menyebarkan agama islam ke penduduk Madinah. Mush’ab dipilih Rasulullah dikarenakan kecerdasan dan ketangkasan beliau dalam menyampaikan dakwah islam. Melalui dakwah Mush’ab bin Umair lah Ummu Imarah memeluk Islam.

Tersiar kabar mengatakan bahwa 3000 pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan sedang bergerak untuk membalaskan dendam akibat kekalahan mereka di perang Badar. Mendengar kabar tersebut, kaum muslimin pun bersegara menyiapkan pasukan untuk melawan pasukan Abu Sufyan.

Berita itu juga telah sampai ke telinga Ummu Imarah. Tidak ingin berdiam diri dan menyia-yiakan panggilan jihad tersebut, Ummu Imarah beserta suami dan kedua anaknya yang bernama Abdullah dan Hubaib, bersegera menyambut dan mengambil peran dalam perang ini.

Pada saat pasukan kaum muslimin dalam keadaan keadaan kocar kacir, Ummu Imarah melihat kondisi dimana saat itu Rasulullah ﷺ dalam keadaan terdesak dan hanya ada kurang dari 10 orang yang melindungi beliau. Melihat kondisi tersebut, Ummu Imarah mendekat bersama kedua anaknya untuk melindungi Rasulullah ﷺ.
.
Pada saat itu Ummu Imarah tidak membawa perisai hingga Rasulullah melihat seorang yang membawa perisai dan memerintahkan agar perisai tersebut diberikan kepada Ummu Imarah.
.
Ketika sedang melindungi Nabi, datang seorang penunggang kuda yang mencoba memukul Ummu Imarah. Beruntung serangan tersebut dapat ditangkis. Serangan itupun dibalas oleh Ummu Imarah dengan memukul otot tumit bagian belakang kuda musuh tersebut sehingga musuh itupun terjatuh. Melihat kondisi Ummu Imarah yang terdesak, Rasulullah memerintahkan putra Ummu Imarah untuk menolong ibunya. Hingga akhirnya musuh tersebut terbunuh.
.
Setelah aksi heroik tersebut, Rasulullah berkata sebagai bentuk pujian kepada Ummu Imarah, “Wahai Ummu Imarah, siapa yang memiliki kemampuan seperti kemampuanmu?” Selain itu juga Rasulullah mendoakan agar Ummu Imarah dijadikan sebagai orang-orang yang menemaninya kelak di Surga.
.
Ternyata kisah keberaniannya tidak terhenti pada perang Uhud saja. Tercatat setelah perang Uhud tersebut, Ummu Imarah ikut berjihad dalam perang Khaibar dan Hunain sehingga membuat para pejuang kaum muslimin kagum terhadap dirinya. Bahkan Ummu Imarah juga tidak ketinggalan ikut berjuang membebaskan Mekkah yang dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah.
.
Pertempuran terakhir yang beliau ikuti adalah perang Yamamah yaitu perang melawan orang-orang yang murtad. Padahal saat itu umur beliau sudah mencapai 60 tahun. Namun umur tersebut tidak memadamkan api jihad yang ada di dada beliau. Ummu Imarah dengan semangat tetap menggerakkan pedangnya melawan kaum murtad. Semoga dari rahim-rahim perempuan muslimah generasi ini, lahir penerus semanagat jihad Ummu Imarah.
.
Wallahu A’lam Bishwab
.
Referensi: The Great Women karya Syaikh Muhammad Husain

Zaid bin Tsabit

Belajar dari Zaid bin Tsabit

Banyak yang sering mendengar sahabat ini, namun kali ini mari melihat dari sudut pandang yang berbeda. Zaid bin Tsabit adalah sahabat Anshar dari Keluarga Najjar yang hidupnya sudah penuh prestasi sejak masa mudanya. Beliau model bagi Millenials seperti kita untuk jadi yang terbaik.

Di remajanya, Zaid sudah dilihat Rasulullah sebagai anak muda multitalenta. Kemampuan bicaranya, daya ingatnya, dan kekuatan hafalannya membuatnya jadi sekretaris Rasulullah di usia belasan tahun. Sahabat senior juga mengakui kecerdasannya.

Zaid memberikan kita inspirasi, bahwa anak muda punya peluang jadi bintang tanpa harus menghabiskan umurnya dulu. Menjadi tua itu pasti, namun jadi dewasa itu pilihan. Dan Zaid berpikiran dewasa di antara teman-temannya.

Di antara hal-hal yang membuat Zaid cemerlang adalah kejeniusannya mempelajari bahasa kaum lain dalam waktu yang singkat. Rasulullah mulai mengetahuinya sejak suatu kali Zaid diajak bertemu beliau dan mentasmi' beberapa surat Al Qur'an. Rasulullah nampak senang dan takjub, kemudian memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Yahudi.

Dengan menakjubkan, hanya 15 hari saja Zaid sudah mampu memahami bahasa kitab Yahudi. Sejak itulah ia selalu jadi sekretaris Rasulullah dalam urusan diplomasi dengan orang-orang yahudi di Madinah. Sejak itu pula, banyak wahyu yang turun dan Rasulullah memanggil Zaid untuk menuliskannya.

Di hari-hari Kekhalifahan Umar bin Khattab, Zaid seringkali diangkat jadi pemimpin Madinah jika Umar sedang berhaji ke Makkah. Beliau pula dideklarasikan menjadi satu dari 6 ahli fatwa dari kalangan Sahabat. Beliau yang paling muda di antara mereka.

Selain kecerdasannya di ilmu Al Qur'an dan bahasa, Zaid juga menjadi ahlinya ilmu waris. Muhammad bin Sirin berkata, "Zaid bin Tsabit mengalahkan umat manusia dalam dua hal besar; Al Qur'an dan ilmu waris."

Namun yang paling fenomenal dari prestasi Zaid bin Tsabit adalah momentum ketika beliau diangkat oleh Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai ketua panitia pengumpulan Al Qur'an. Semua sahabat setuju ketika nama Zaid disebut, kemudian mereka berkata, "Wahai Zaid, engkau adalah anak muda yang cerdas dan kami tak meragukanmu. Engkaulah penulis wahyu Rasulullah, maka carilah kumpulkanlah semua tentang Al Qur'an."
.
Zaid wafat di era Kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Orang-orang sangat kehilangannya, apalagi para pecinta ilmu dan penggali hikmah. Ulama sekaliber Ibnu Abbas saja sampai berkata di hari dimakamkannya Zaid, "hari ini, telah dimakamkan ilmu yang banyak."
.
Referensi :
1. سير أعلام النبلاء الجزء الثاني، للامام الذهبي
2. كتاب زيد بن ثابت للمؤلف صفوان عدنان داوودي

Berdirinya Kesultanan Utsmaniyah.

#TodayInHistory 27 Januari 1299 M, berdirinya Kesultanan Utsmaniyah.

Kontributor : @farruq_1453
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
.
Abad 13 adalah abad yang penuh kekacauan bagi kaum Muslim, Tragedi itu dimulai pada tahun 1206 M, ketika itu di wilayah Asia Tengah muncul Temujin yang digelari Genghis Khan, dan dia berhasil menyatukan bangsa Mongol dan terus meluaskan wilayah kekuasaanya ke arah barat. Hingga pada suatu titik sampailah kekuatan Mongol di wilayah Kesultanan Saljuk, Kesultanan Saljuk yang merasa wilayahnya terancam mengobarkan perang demi melindungi wilayah kekuasaannya.
.
Namun kekuatan Mongol yang sangat besar, membuat satu per satu wilayah Kesultanan Saljuk dan Kekhalifahan Abbasiyah berhasil di taklukkan oleh Mongol. Puncaknya adalah Jatuhnya Ibukota Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad pada 1258 M di tangan Hulagu Khan. Dan pada tahun yang sama, lahirlah Utsman Bin Ertuğhrul, yang kelak dikenal sebagai peletak dasar dan pendiri Kesultanan Utsmaniyah.
.
Sama seperti ayahnya Ertuğhrul, Utsman I terlahir dengan kecerdikan dan keluwesan dalam memimpin, dan dalam tempo yang singkat Utsman I berhasil menyatukan Kabilah Kabilah Turki yang terpecah belah pasca Taklukknya Kota Baghdad oleh Pasukan Mongol. Seiring berjalannya waktu dan Redupnya pamor Kesultanan Saljuk, Umat Muslim begitu menantikan sosok seorang Ksatria heroik yang bisa memadamkan kekacauan yang terjadi di tengah tengah Umat Muslim.
.
Dengan mendapatkan dukungan yang begitu besar dari Suku Turki yang mendiami wilayah Anatolia, tepat pada 27 Januari 1299 M. Utsman I mengukuhkan berdirinya Kesultanan Utsmani dengan dirinya sebagai Sultan Pertama. Visi Kesultanan Utsmani ini sangat jelas, dalam Masyarakat Turki dikenal dengan nama "Impian Utsman" yang tidak lain adalah Pembebasan Kota Konstantinopel. Impiannya itu terus menerus ia tanamkan kepada generasi penerusnya.
.
Utsman I berhasil membuktikan kepada khalayak bahwa dirinya adalah seorang Ghazi sejati dan pewaris sah dari Kesultanan Saljuk. Utsman I menegaskan posisi Utsmani dan menggelari dirinya sendiri sebagai "Sultan, dari Sultan para Ghazi, bangsawan di kaki langit, ksatria dunia" dan memproklamirkan bahwa Kesultanan Utsmani adalah "The Ghazi State" yang akan terus menerus berjihad untuk kemuliaan Islam, dan ia wafat pada 1 Agustus 1326 M di Kota Bursa.

7 Fakta Sahabat Muhajirin

7 Fakta Sahabat Muhajirin

Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

1. Para pebisnis lintas negara
Sebagaimana digambarkan dalam Surat Quraisy, Kaum Muhajirin memiliki profesi rata-rata sebagai bisnisman yang mendistribusikan dagangan antar negara. Fungsi Makkah yang ada di tengah-tengah Romawi dan Yaman membuat mereka banyak menjadi saudagar kaya raya seperti Abu Bakar dan Utsman bin Affan.

2. Sempat demam tinggi ketika pertama kali sampai ke Madinah
Awalnya Kaum Muhajirin tidak begitu nyaman dengan keadaan Madinah. Kelelahan dan beban pikiran membuat beberapa sahabat Muhajirin mengalami demam tinggi. Aisyah melaporkannya kepada Rasulullah hingga beliau berdoa, "Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu."

3. Di awal fase Madinah, semua Sariyah ditugaskan pada Muhajirin
Rasulullah ﷺ menugaskan Kaum Muhajirin untuk berangkat dalam ekspedisi-ekspedisi militer guna memberi pelajaran kepada Kaum Musyrikin Makkah. Kaum Anshar tidak diikutkan sebab Rasulullah ingin memberikan gambaran terlebih dahulu tentang arah perjuangannya.

4. Banyak yang meninggalkan harta mereka di Makkah
Seperti Abdurrahman bin Auf, Shuhaib bin Sinan Ar Rumi yang meninggalkan banyak sekali harta di Makkah. Orang-orang Quraisy merampok harta tersebut dan tidak meninggalkan satupun sisa bagi saudagar yang berhijrah ke Madinah.

5. Mendapatkan pendidikan spesial selama 13 tahun dakwah di Makkah
Selama fase dakwah Makkah, Rasulullah menitikberatkan pada pendidikan akhlaq dan akidah kepada Kaum Muslimin. Itulah yang membuat kualitas Sahabat-sahabat Muhajirin sangat kuat sehingga di masa depan mereka menjadi suri tauladan bagi Kaum Muslimin dengan keistimewaan masing-masing.

6. Sebagian besar memilih tinggal di Madinah setelah Fathu Makkah
Setelah Fathu Makkah tahun 8 Hijriah, Rasulullah dan para sahabat Muhajirin banyak yang memutuskan untuk tetap kembali ke Madinah. Hal ini menjadi sinyal bahwa Islam tidak datang untuk menaklukkan demi keuntungan pribadi, namun untuk menebar risalah dakwah. Hanya segelintir sahabat yang ditugaskan di Makkah untuk mendidik masyarakat.

7. Banyak menjadi pemimpin besar sepeninggal Rasulullah
Sahabat-sahabat Muhajirin sepeninggal Rasulullah menjadi pemimpin hebat yang meneruskan risalah dakwah. Kebanyakan panglima militer, duta besar dan Ahli Fatwa berasal dari Kaum Muhajirin karena pengalaman mereka yang lebih lama di bawah naungan madrasah Rasulullah.

Nu'aim bin Mas'ud Sang Propagandis di Perang Ahzab

Nu'aim bin Mas'ud, Sang Propagandis di Perang Ahzab

Kontributor : @mfarisabulkhair
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Nama lengkapnya adalah Nu'aim bin Mas'ud bin Amir Al Asyja'i. Ia merupakan salah seorang sahabat yang terlahir di keluarga saudagar dari kabilah Ghatafan. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai seorang yang "multitalenta". Hal ini membuatnya mudah berbaur di khalayak ramai terutama di kalangan orang-orang musyrik dan Yahudi Madinah.
.
Seperti yang kita ketahui bahwa Perang Ahzab merupakan peperangan yang paling sedikit jumlah korbannya dibandingkan dengan Perang Badr dan Uhud. Kendati demikian, Perang Ahzab merupakan perang yang paling menegangkan. Pasukan Muslim terjepit karena kepungan musuh dari dalam dan luar Madinah. Tetapi Allah masih memberikan pertolongan, sehingga pasukan Muslim dapat terus bertahan.
.
Parit-parit yang dibuat oleh pasukan Muslim sukses menghadang laju pasukan musyrik. Hal ini membuat pasukan musyrik sangat sulit memasuki Madinah, sehingga minim terjadi kontak senjata. Serangan pasukan Muslim terfokus melalui lontaran-lontaran anak panah. Selain itu, penjagaan ketat pasukan Islam di dalam Madinah berhasil mencegah dampak yang lebih buruk dari pengkhianatan Bani Quraizhah.
.
Pada saat terjadi Perang Ahzab, Nu'aim bergabung dengan pasukan Ghatafan. Hal ini dikarenakan ia masih musyrik pada saat itu dan berasal dari kabilah tersebut. Lalu Allah memberikan ia hidayah, ia merenung lalu memutuskan menemui Rasulullah secara diam-diam untuk bersyahadat. Usai bersyahadat ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Sementara kaumku tidak mengetahui tentang keislamanku ini. Maka perintahkanlah kepadaku apa pun yang engkau kehendaki". Lalu Rasulullah bersabda, "Engkau adalah orang satu-satunya, berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat."
.
Seketika itu pula Nu'aim pergi menemui Bani Quraizhah yang dulunya adalah teman karibnya semasa Jahiliyah. Sesampainya disana ia berkata, "Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian, khususnya antara diriku dan kalian". Mereka menjawab, "Engkau benar."
.
Nu'aim berkata, "Orang-orang Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Negeri ini adalah negeri milik kalian. Disini harta benda, anak-anak dan istri-istri kalian. Kalian tidak akan sanggup meninggalkan negeri ini untuk pindah ke tempat lain. Sementara Quraisy dan Ghatafan datang kesini untuk memerangi Muhammad dan rekan-rekannya, lalu kalian menampakkan dukungan kepada mereka. Padahal negeri, harta benda dan wanita-wanita mereka berada di tempat lain. Jika mereka merasa mendapat kesempatan, tentu kesempatan itu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, mereka pun akan kembali ke negeri mereka dan meninggalkan kalian bersama Muhammad yang akan melampiaskan dendam kepada kalian."
.
"Lalu bagaimana baiknya wahai Nu'aim?" Tanya mereka. Nu'aim menjawab, "Kalian tidak perlu berperang bersama mereka kecuali setelah mereka memberikan jaminan kepada kalian". Setelah itu Nu'aim langsung pergi menemui Quraisy dan Ghatafan lalu menyebarkan isu yang serupa kepada mereka. Mereka mulai termakan dengan tipu muslihat Nu'aim. Tepatnya malam Sabtu, bulan Syawal 5 H, orang-orang Quraisy, Ghatafan dan Yahudi saling mengirimkan pesan. Masing-masing dari mereka meminta jaminan dan dukungan. Tetapi tidak satupun yang mencapai kesepakatan, hal ini dikarenakan hati mereka telah terbelenggu dengan keragu-raguan.
.
Mereka saling mencurigai. Dengan begitu Nu'aim sukses memperdayai kedua belah pihak dan menciptakan perpecahan di barisan musuh, sehingga semangat mereka menjadi turun drastis. Sementara Rasulullah dan orang-orang Muslim selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami."
.
Allah mendengar doa Rasul-Nya dan orang-orang Muslim. Setelah muncul perpecahan di barisan orang-orang musyrik dan mereka bisa diperdayai, Allah mengirimkan angin taufan kepada mereka, sehingga membuat mereka kocar kacir. Allah juga menghinakan mereka dengan menyusupkan perasaan takut ke hati-hati mereka.
.
Nu'aimmembuktikan bahwa Islam tidak kekurangan orang-orang hebat di segala bidang, mulai dari penghafal Al-Qur'an dan Hadits, peramu taktik, panglima perang, hingga propagandis.
.
Referensi:
1. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh (1997). Sirah Nabawiyah
2. Republika.co.id
Pengepungan Bani Qainuqa'; Konfrontasi Pertama dengan Kaum Yahudi di Era Nubuwah

Kontributor : @mfarisabulkhair
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Perang Badr merupakan konfrontasi bersenjata yang pertama antara orang-orang Muslim dan musyrik. Kemenangan Islam di Perang Badr merupakan hal yang begitu mengejutkan bangsa Arab kala itu. Bagaimana tidak, pihak yang diunggulkan dalam peperangan ini justru harus menelan pil pahit, sedangkan pihak yang diremehkan berhasil menang dengan begitu telak. Kabar kemenangan ini membuat kekuatan Umat Islam menjadi semakin mantap dan diperhitungkan.
.
Orang-orang Yahudi Madinah melihat kemenangan ini sebagai ancaman yang serius bagi posisi agama dan ekonomi mereka. Mereka mulai melanggar butir-butir perjanjian yang telah disepakati bersama Rasulullah ﷺ, kebencian mereka semakin menjadi-jadi dan semakin berani memperlihatkan permusuhan terhadap orang-orang Muslim.
.
Terdapat tiga suku Yahudi di Madinah, yaitu Bani Qainuqa', Bani Quraizhah, dan Bani Nadhir. Diantara ketiga suku tersebut, Yahudi Bani Qainuqa' lah yang paling dominan. Tokoh pimpinan mereka adalah Ka'b bin Al-Asyraf yang dikenal paling menonjol serta paling jahat. Bani Qainuqa' menetap di dalam Madinah, mereka dikenal sebagai pengrajin perhiasan, pandai besi, pembuat perkakas, dan bejana. Maka tak heran apabila banyak dari mereka yang lihai dalam membuat perlengkapan perang.
.
Mereka juga mempunyai 700 prajurit perang. Tak ayal, hal ini membuat mereka merasa paling pemberani diantara orang-orang Yahudi, maka mereka pun menjadi pelopor pertama yang melanggar perjanjian dari kalangan Yahudi. Mereka mengolok-ngolok, mengejek, berlaku lancang dan mengganggu orang-orang Muslim yang datang ke pasar mereka. Bahkan mereka juga mengganggu wanita-wanita Muslimah.
.
Karena tindakan mereka yang melampaui batas ini, maka Rasulullah ﷺ mengumpulkan mereka, memberi nasihat dan mengajak mereka kepada petunjuk, memperingatkan agar mereka tidak mencari permusuhan dan tidak sewenang-wenang. Tetapi peringatan dan nasihat ini hanya dianggap angin lalu saja. Bahkan mereka dengan sombongnya berkata, "Hai Muhammad, janganlah engkau terperdaya oleh dirimu sendiri, karena engkau telah berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu cara berperang. Andaikan saja engkau berperang dengan kami, tentu engkau akan tahu bahwa kamilah orangnya. Engkau tentu belum pernah bertemu dengan orang-orang yang seperti kami." Jawaban Bani Qainuqa' ini jelas menunjukkan keinginan mereka untuk berperang.
.
Sikap yang ditunjukkan oleh Bani Qainuqa' menimbulkan keresahan di Madinah. Mereka sengaja mempersempit penghidupan penduduk Madinah. Puncaknya adalah disaat orang-orang Yahudi membunuh seorang pemuda Muslim yang berusaha membela wanita Muslimah yang sedang dilecehkan di pasar Bani Qainuqa'. Tentu saja perbuatan mereka tidak bisa dimaafkan. Pada saat itu kesabaran Rasulullah ﷺ sudah habis.
.
Setelah mengangkat Abu Lubabah bin Abdul Mundzir sebagai wakilnya di Madinah dan bendera diserahkan kepada Hamzah bin Abdul Muthalib, Rasulullah ﷺ beserta pasukan Islam bergerak menuju Bani Qainuqa'. Orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' berusaha bertahan di benteng mereka, maka Rasulullah ﷺ dan pasukan Islam pun mengepung mereka secara ketat. Pengepungan ini berlangsung selama 15 hari, terhitung dari pertengahan Syawal 2 H hingga muncul hilal bulan Dzul-Qa'dah.
.
Lalu Allah memberikan pertolongan kepada pasukan Islam dan menghinakan orang-orang Yahudi dengan menyusupkan perasaan takut ke hati mereka, sehingga mereka memutuskan untuk "mengibarkan bendera putih" dan pasrah terhadap keputusan Rasulullah ﷺ terhadap diri mereka. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menghabisi mereka, dan pasukan Islam siap melaksanakannya.
.
Tiba-tiba Abdullah bin Ubay bangkit memerankan sifat kemunafikannya. Dia mendesak agar Rasulullah ﷺ memaafkan orang-orang Yahudi itu, hingga akhirnya Rasulullah ﷺ mau memperhatikan apa yang dikatakan orang munafik ini. Karena desakan inilah Rasulullah ﷺ mau bermurah hati kepada mereka. Beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' meninggalkan Madinah sejauh-jauhnya, dan tidak boleh hidup bertetangga. Maka mereka pergi ke perbatasan Syam, dan tidak lama kemudian, banyak di antara mereka yang meninggal dunia.
.
Sementara itu, Rasulullah ﷺ menahan harta benda mereka. Rasulullah ﷺ mengambil tiga keping uang, dua baju besi, tiga pedang dan tiga tombak serta 1/5 harta rampasan. Salah seorang sahabat bernama Muhammad bin Maslamah di amanahkan untuk mengumpulkan semua harta rampasan perang kala itu.
.
Referensi:  Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh (1997). Sirah Nabawiyah

Pengaruh Bahasa Arab Pada Spanyol Hari Ini

Pengaruh Bahasa Arab Pada Spanyol Hari Ini

Lebih kurang, ada 4000 kosakata Bahasa Arab yang masih digunakan dalam keseharian Masyarakat Spanyol. Semakin ke selatan, penggunaan bahasa Arab ini semakin banyak. Hal ini dikarenakan peradaban Islam lebih lama bertahan di Andalusia bagian selatan.

Jika ada sesuatu yang membedakan Spanyol dari bahasa Eropa lainnya, seperti Prancis atau Italia, itu adalah pengaruh besar yang berasal dari bahasa Arab.  Selain nama tempat yang tak terhitung yang dipengaruhi Bahasa Arab, bahasa Spanyol juga terpengaruh.

Karena kaum Muslimin tidak memiliki pengaruh sebesar bagian utara Spanyol, bahasa Catalan dan Basque memiliki lebih sedikit unsur pengaruh Arab.  Namun, ada sekitar 4.000 kata dalam bahasa Spanyol yang berasal dari bahasa Arab, dan penggunaannya lebih sering saat kita menuju ke selatan.

Di antara nama tempat, pengaruh Bahasa Arab paling jelas. Jika kita meninggalkan Algeciras (Al Jazirah Al Khadhra), dekat Gibraltar (Jabal Thariq) dan kita melakukan perjalanan ke utara, kita akan menyeberangi sungai Guadalquivir (Al Wadi Al Kabir) dan berjalan di La Mancha (Al Mansya) menuju Guadalajara (Wadi Al Hijarah). Semua nama ini berasal dari bahasa Arab.

Dari sudut pandang linguistik, kata-kata Arab ditemukan dalam kategori yang sangat spesifik dalam bahasa Spanyol.  Kebanyakan dari mereka adalah kata benda dan toponim (nama tempat). Ada sangat sedikit kata sifat dan kata kerja.
.
Sumber : https://www.donquijote.org/
.

Dragut Pedang Terhunus Milik Islam


Dragut, The Drawn Sword of Islam

Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Kali ini kita akan mengenal lagi satu pahlawan muslim yang jarang sekali terdengar oleh pemuda muslim. Meskipun jarang terdengar, bukan berarti ia tak berjasa besar. Justru inilah saatnya menggali kembali spiritnya untuk menginspirasi kita semua. Siapakah dia?

Ia adalah seorang legenda angkatan laut Kekhalifahan Utsmaniyah yang namanya masyhur di kalangan Admiral Eropa dengan gelar "Raja Tanpa Tahta di Mediterania" sebagaimana ditulis oleh Francesco Balbi dalam bukunya "The Siege of Malta, 1565."

Namanya Turgut Reis (1485 – 23 Juni 1565). Orang-orang Inggris memanggilnya "Dragut." Tidak banyak anak-anak muda Islam yang kenal baik siapa beliau, bahkan saya yakin banyak di antara teman-teman yang bahkan belum pernah dengar nama ini. Padahal, Turgut Reis ini akan jadi keyword penting yang mengantarkan kamu pada insight baru, bahwa ternyata Kaum Muslimin bisa lahir dari bangsa apa saja. Karena dia adalah putra asli negara Yunani.

Di masanya, ia dikenal sebagai "Pedang Terhunus Milik Islam." Sebab ia adalah seorang komandan angkatan laut Kekhalifahan Utsmaniyah, gubernur, dan pejuang keturunan Yunani. Di bawah komandonya, kekuatan maritim Kekhalifahan Utsmaniyah diperluas ke seluruh Afrika Utara.

Dragut diakui karena kejeniusan militernya. Judith Miller dalam tulisannya 'Malta; When Suleiman Laid Siege' yang diterbitkan dalam New York Times 28 September 1986 menulis bahwa Turgut Reis adalah "the greatest pirate warrior of all time." Miller menggunakan kata "pirate" untuk mendeskripsikan Kekuatan Maritim Utsmaniyah.

Selain menjabat sebagai Laksamana di Angkatan Laut Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah kepemimpinan Sultan Suleiman the Magnificent, Turgut juga ditunjuk sebagai Gubernur Aljazair dan Djerba serta pemimpin Angkatan Laut di Mediterania.

Pada tanggal 7 Ramadhan, tahun 960 Hijriah, Turgut Reis memberikan kemenangan yang spektakuler untuk dakwah Islam. Beliau berhasil membebaskan Pulau Korsika dan Kota Catania di Pulau Sicilia bersama para mujahid Angkatan Laut Kekhalifahan Utsmaniyah. Mengapa ia membebaskan Korsika?
.
Karena di sana, ada 7000 muslim Andalusia yang disekap, dipenjara dan diasingkan oleh aparatur militer Spanyol di Pulau Korsika. Saat itu, adalah tahun-tahun pedih ketika Kerajaan Castilla dan Aragon berhasil sepenuhnya melumatkan keberadaan Umat Islam dari daratan Spanyol. Banyak yang mengungsi, banyak yang dibunuh, banyak juga yang dimasukkan ke penjara.
.
Turgut Reis membawa misi khusus dari Kekhalifahan Utsmaniyah untuk melakukan mission impossible itu. Tapi, Eropa memang sudah lama mendengar namanya. Ia masyhur di berbagai catatan para pengembara dan pelaut. Dalam berbagai misi, Turgut selalu memberikan hasil terbaik. Ternyata, dia memang salah satu murid andalan pendahulunya yang juga seorang bintang; Heyreddin Barbarossa.
.
Di bawah kepimpinan beliau, kekuasaan maritim Kekhalifahan Utsmaniyah terbentang melintasi sepanjang Afrika Utara. Sewaktu mengabdi sebagai Gubernur di Tripoli, Turgut membangun banyak bangunan besar dan menjadikannya salah satu kota paling mengagumkan di Afrika Utara pada saat itu.
.
Referensi :
1. Naylor, Phillip Chiviges (2009). North Africa: a history from antiquity to the present. University of Texas Press. hlm. 120–121
2. 101 Min Amaliqah Ali Utsman, Bilal Abul Khair
3. 100 Udzama Ummatil Islam Jihad Turbani

Mu'adz bin Amr bin Al-Jamuh dan Mu'awwidz bin Afra', Dua Remaja Bermental Baja

Mu'adz bin Amr bin Al-Jamuh dan Mu'awwidz bin Afra', Dua Remaja Bermental Baja

Kontributor : @mfarisabulkhair
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin





Mu'adz bin Amr bin Al-Jamuh adalah anak dari Amr bin Al-Jamuh, seorang sahabat dari Bani Salamah. Sedangkan Mu'awwidz bin Afra' adalah anak dari seorang wanita bernama Afra' binti Ubaid, ia dikenal sebagai ibu para syuhada. Kedua pemuda yang masih belia ini berasal dari Madinah.
.
Pada saat Rasulullah ﷺ mengumumkan seruan kepada pemuda Muslim untuk ikut serta dalam Perang Badr, Mu'adz dan Mu'awwidz begitu antusias mendengarnya. Pada saat itu Mu'adz baru berusia empat belas tahun, sedangkan Mu'awwidz berusia satu tahun lebih muda darinya.
.
Kedua pemuda ini memiliki tubuh kuat dan bagus, sehingga terlihat lebih dewasa dari usianya. Hal ini menyebabkan Rasulullah ﷺ menerima mereka untuk bergabung dalam pasukan Islam kala itu. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan, mereka langsung menjadikan Abu Jahal sebagai sasaran di kancah pertempuran nanti.
.
Abdurrahman bin Auf menuturkan, "Tatkala aku sedang berada di tengah barisan pada Perang Badr, aku menengok ke arah kiri dan kanan. Kulihat ada dua pemuda yang masih belia. Aku tidak berani menjamin keselamatan keduanya saat itu. Salah seorang di antara mereka bertanya dengan berbisik-bisik kepadaku, "Wahai paman, tunjukkan kepadaku mana yang namanya Abu Jahal!"
"Wahai keponakanku, apa yang hendak engkau lakukan terhadap dirinya?" tanyaku.
"Kudengar dia suka mencaci maki Rasulullah ﷺ," jawabnya. Lalu dia berkata lagi, "Demi yang diriku ada ditangan-Nya, jika aku sudah melihatnya, maka tak kubiarkan dia lolos dari penglihatan ku hingga siapakah di antara kami yang lebih dahulu mati."
.
Aku tertegun mendengar perkataannya. Lalu pemuda yang satunya lagi mencolekku dan bertanya seperti itu pula kepadaku. Aku menajamkan pandangan mencari-cari Abu Jahal yang sedang berputar-putar di tengah manusia. Setelah terlihat, aku berkata kepada mereka berdua, "Apakah kalian tidak melihat? Itulah sasaran yang engkau tanyakan itu," tuturku.
.
Dua pemuda yang dimaksud oleh Abdurrahman bin Auf adalah Mu'adz dan Mu'awwidz.
.
Mendengar hal ini, sesegera mungkin Mu'adz dan Mu'awwidz mempersiapkan diri dan mendekatinya. Saat itu posisi Abu Jahal dikelilingi oleh orang-orang musyrik yang berusaha melindunginya. Setelah jaraknya cukup memungkinkan, Mu'adz langsung menyabetnya hingga kakinya putus pada bagian betis. Melihat hal ini, spontan Ikrimah yang masih musyrik kala itu menyerang dan mengenai Mu'adz hingga tangannya putus dan bergelantungan. Pertempuran yang terus berkecamuk memaksa Mu'adz untuk mundur.
.
Setelah tugas Mu'adz selesai, giliran Mu'awwidz pula yang ambil bagian. Ia mendekati Abu Jahal dan menyabetnya hingga tersungkur dan membiarkannya sekarat. Setelah itu Mu'awwidz terus bertempur hingga syahid.
.
Mu'adz dan Mu'awwidz benar-benar merealisasikan janjinya, tak sekalipun rasa gentar terbesit dalam hatinya. Seusai pertempuran, Rasulullah ﷺ secara  khusus memberikan sebagian harta rampasan perang kepada Mu'adz  bin Amr, hal ini dikarenakan Mu'awwidz syahid.
.
Jejakmereka dapat menjadi bukti bahwa sebesar apapun rintangan menghadang, selama tetap terus berusaha dan berdoa maka tidak ada yang mustahil. Mungkin saja kisah mereka berdua menginspirasi para pemuda-pemudi Syam agar terus tegar menentang kedzaliman yang sedang mencekram negeri mereka.
.
Referensi:
1. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh (1997). Sirah Nabawiyah
2. https://dakwahdanjihad.wordpress.com

Pembebasan Palestina Bagian Akhir

Kembalinya Acre dan Tuntasnya Pembebasan Palestina

Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin




#TodayinHistory Pada tanggal 17 Jumadil Ula 690 Hijriah, Pasukan Muslimin Mamalik yang dipimpin Sultan Al Asyraf Khalil bin Qalawun berhasil membebaskan Kota Acre (Akka) dari cengkraman Pasukan Crusader Eropa. Ekspedisi Pembebasan ini merupakan proyek pembersihan Palestina fase akhir dari dominasi kerajaan Eropa di Dunia Islam.
.
************
.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 1291 ini, wahai sahabat sekalian, merupakan salah satu kemenangan besar Kaum Muslimin untuk mengusir koloni Eropa Barat yang mencengkram Bumi Palestina. Kita tahu bahwa Baitul Maqdis sudah dibebaskan oleh Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah pada tahun 1187. Beliau banyak memberikan warisan pembebasan yang kemilau untuk Kaum Muslimin.

Namun demikian, setelah wafatnya Shalahuddin, invasi Eropa Barat ke Palestina masih berlangsung. Mereka kehilangan Baitul Maqdis sebagai ibukotanya, lalu mereka menjadikan kota pelabuhan Acre sebagai ibukota selanjutnya. Gelombang Perang Salib ketiga sedikit banyak berimbas pada kembalinya beberapa kota ke tangan Pasukan Salib, yang membuat Palestina tidak steril dari cengkraman mereka.

Nah, di Mesir saat itu sudah berdiri Kesultanan Mamalik yang dipimpin oleh para keturunan Turki. Mereka adalah rival terkuat dominasi Kekuatan Eropa di Palestina. Gelombang demi gelombang ekspedisi dilakukan Kesultanan Mamalik untuk mengembalikan tanah Kaum Muslimin yang dijajah. Mulai dari era Sultan Zahir Baibars hingga berakhir di era Sultan Al Asyraf Khalil bin Qalawun.

Siapakah beliau?

Namanya mirip dengan Shalahuddin, yaitu Shalahuddin Khalil, sultan ke-8 Kesultanan Mamalik Mesir. Di masanya itulah, Kaum Muslimin berhasil membebaskan Kota Acre yang menjadi basis pertahanan Pasukan Eropa. Bersama dengan 160 ribu pasukan infantri, 60 ribu pasukan kavaleri dan 62 senjata berat Trebuchet. Pengepungan berlangsung dari 4 April sampai 18 Mei 1291.

Peristiwa ini dianggap oleh para Sejarawan sebagai salah satu pertempuran paling penting pada periode itu. Meskipun gerakan perang salib berlanjut selama beberapa abad lagi, jatuhnya Acre menandai selesainya kekuatan Eropa di Syam.  Ketika Acre jatuh, Tentara Salib kehilangan benteng utama terakhir mereka.
.
Pasukan Muslimin yang berkumpul jauh melebihi jumlah Tentara Salib. Sultan Al Asyraf meminta bantuan muslimin Suriah untuk memperkuat pasukan Mesirnya. Seruan itu dijawab oleh mujahidin dari Damaskus (dipimpin oleh Panglima Lajin), Hama (dipimpin oleh  al-Muzaffar Taqaiuddin), Tripoli (dipimpin oleh Bilban) dan Al-Karak (dipimpin oleh Baibars al-Dewadar.) Sebagian besar pasukan adalah sukarelawan, sedangkan alat-alat berat diambil dari semua benteng Kesultanan Mamalik.
.
Pengepungan ini besar-besaran dan jumlah yang fantastis. Kota Hama mengirim ketapel yang sangat besar bernama Al Manshuri (kemenangan), lalu ketapel besar lainnya adalah Al Ghadibah (kemarahan) Ada juga yang lebih ringan yang disebut "Ath Thiran As Sauda'" (Banteng Hitam)
.
Sementara itu, Acre dipertahankan oleh dinding dalam dan luar, dengan total dua belas menara yang dibangun oleh raja-raja Eropa dan bangsawan kaya lainnya.
.
Tentara Salib melancarkan beberapa serangan ke kamp pasukan Mamalik. Dalam serangan lain, tiga ratus Templar, dipimpin oleh Jean de Grailly dan Otto de Grandson menyerang artileri pasukan Mamalik dengan Greek Fire. Mereka cukup berhasil membuat pasukan muslimin kehilangan perlengkapan penting untuk pengepungan.
.
Serangan Mamalik didahului dengan persiapan berpekan-pekan. Pada tanggal 18 Mei, beberapa menara dan bagian tembok runtuh karena rusak. Runtuhnya Menara pertahanan sangat menurunkan moral di kalangan para pasukan Eropa yang bertahan.
.
Menjelang malam tanggal 18 Mei, Acre sudah berada di pelukan Umat Islam, kecuali benteng Templar di tepi laut di ujung barat kota.  Benteng itu bertahan selama sepuluh hari lagi, di mana Matthew of Clermont, seorang marshal Hospitaller, terbunuh. Setelah sepekan kemudian, Sultan Khalil dan Peter de Severy, pemimpin Templar yang tersisa, menegosiasikan penyelesaian untuk memberikan jaminan pada pasukan Salib agar pergi dengan aman. Namun perjanjian itu runtuh ketika tentara Mamalik yang mengawasi evakuasi di dalam benteng dibunuh oleh para Templar.
.
Terbebasnya Acre menandai berakhirnya perang salib di Baitul Maqdis. Tidak ada gelombang perang salib yang efektif untuk menjajah kembali Palestina sesudahnya.
.
Referensi :
1. www.islamstory.com
2. Daulah Al Mamalik, Muhammad Sya'ban Ayyub

STASIUN TUNTANG

                                        STASIUN TUNTANG         Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...