Minggu, 26 Mei 2019
Dinasty umayyah Andalusia (jatuhnya Toledo)
Jatuhnya Toledo, Benteng Sentral Andalusia
Kontributor : @dhafin21
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin
#TodayinHistory (25 Mei 1085) Toledo (طليطلة) merupakan salah satu kota di Andalusia yang membentang di bagian Timur Kerajaan Badajoz, dari Quriyah dan Trujillo menuju arah timur laut hingga sampai ke Benteng Ayyub dan Santa Maria di timur. Kemudian di bagian barat dayanya terdapat kerajaan Bani Hud di Zaragoza (benteng Andalusia bagian atas).
.
Lalu di bagian selatan ia membentang ke arah barat hingga ke perbatasan kerajaan Cordova. Kemudian di bagian utara ia membentang ke timur hingga ke belakang sungai Tajah dan bertemu dengan perbatasan kerajaan Castille.
Toledo ditaklukkan oleh Thariq bin Ziyad rahimahullah bersama 6000 pasukannya. Yang menarik dari peristiwa penaklukan Toledo adalah strategi yang digunakan oleh Thariq bin Ziyad. Toledo ditaklukkan dengan cara menebarkan propaganda kepada masyarakatnya. Padahal waktu itu pasukan Thariq bin Ziyad jaraknya masih jauh dan memerlukan sekitar beberapa bulan perjalanan untuk sampai di Toledo.
.
Sejak awal, Toledo memiliki posisi yang sangat strategis bagi kedua belah pihak, Islam dan Kristen. Dari sudut kaum muslimin, Toledo memiliki nilai strategis bagi jihad dikarenakan posisinya menjadi pembatas utara di bagian tengah Daulah Islamiyah di Andalusia yang berfungsi untuk menghadapi serangan kerajaan-kerajaan Kristen.
.
Sedangkan bagi pihak Kristen, Toledo dianggap strategis karena Toledo merupakan langkah awal dan wilayah terpenting bagi pihak Kristen untuk menguasai kerajaan-kerajaan Islam Andalusia. Kaum Kristen sadar ketika Toledo sudah dikuasai, maka secara otomatis Cordova, Bardajoz, Granada, dan Sevilla dengan sendirinya juga ikut jatuh. Letak strategis inilah yang juga membuat para Muluk Ath-Thawif saling bertikai.
.
Kejatuhan sebuah kerajaan tentu tidak serta merta terjadi dalam hitungan detik dan mendadak. Sama halnya terkait kejatuhan Toledo. Ada sebab-sebab yang mengakibatkan keruntuhan tersebut terjadi, salah satunya adalah konflik internal yang melemahkan pertahanan kaum muslimin.
.
Sebagaimana sudah disebutkan di atas, posisi Toledo yang strategis selain membawa keuntungan bagi kaum muslimin, di satu sisi juga menjadi bibit konflik di antara kerajaan Islam. Perlu diketahui bahwa Toledo jatuh pada masa Muluk Ath-Thawaif atau masa raja-raja kecil, yang merupakan masa setelah Khilafah Umawiyah menguasai Andalusia (lebih lanjut mengenai sebab runtuhnya Khilafah Umawiyah di Andalusia, baca buku “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia karangan DR. Raghib As-Sirjani).
.
Maka, pada masa Muluk Ath-Thawaif, Andalusia terbagi menjadi 7 kawasan utama, salah satunya Toledo yang dipimpin Bani Dzun-Nun.
.
Perebutan wilayah teritorial dan keserakahan menjadi bibit utama konflik di tubuh kaum muslimin. Hal tersebut tercermin dalam konflik Toledo dengan Zaragoza. Al Ma’mun bin Dzu Nun sebagai penguasa Toledo dan Sulaiman Al-Musta’in bin Hud sebagai penguasa Zaragoza, bertikai memperebutkan wilayah yang terbentang dari benteng Ayyub hingga lembah berbatu.
.
Secara De Jure lembah berbatu tersebut masuk ke dalam wilayah Toledo. Namun secara De Facto masyarakatnya lebih condong dan suka kepada Sulaiman. Tentu Sulaiman memanfaatkan kondisi tersebut untuk menebar benih-benih perpecahan di masyarakat agar nantinya mudah dikuasai.
.
Cara tersebut berhasil memecah masyarakat dan Sulaiman mengirim pasukan yang dipimpin anaknya yang bernama Ahmad untuk menguasai lembah terebut. Al Ma’mun merespon tindakan Sulaiman tersebut dengan mengirim pasukan yang ia pimpin sendiri.
.
Pertempuran pun tak terelakkan. Korban berjatuhan dari masing-masing pihak. Namun kemenangan berpihak pada Sulaiman, sedangkan Al Ma’mun berhasil melarikan diri walaupun sempat dikejar oleh Ahmad.
Kekalahan tersebut bukannya membuat Al Ma’mun patah semangat, melainkan semakin mengobarkan semangat balas dendam. Ia meminta bantuan kaum Kristen di bawah Ferdinand I penguasa Castille untuk melawan Sulaiman. Sebagai kompensasi bantuan tersebut Al Ma’mun memberikan upeti yang tinggi kepada Ferdinand I.
.
Rencana balas dendam Al Ma’mun berhasil setelah pasukan berkuda Ferdinand melakukan serangan ke wilayah Sulaiman yang membuat Sulaiman melarikan diri bersama pasukannya. Ternyata Sulaiman mengikuti jejak Al Ma’mun pasca serangan Al Ma’mun yang meminta bantuan kepada Ferdinand untuk membalaskan dendamnya.
.
Tentu saja Ferdinand sangat dengan senang hati membantu. Secara tidak langsung dengan membantu Sulaiman melawan Al Ma’mun, dia makin memperuncing perpecahan di kalangan kaum muslimin.
.
Api permusuhan ini terus berlanjut hingga ke anak-anak mereka yaitu Al Muqtadir Billah di pihak Zaragoza dan Yahya Al Qadir di pihak Toledo. Di zaman mereka inilah kejatuhan Toledo semakin terlihat jelas. Hal tersebut dikarenakan masing-masing pihak meminta bantuan kerajaan Kristen untuk memerangi satu sama lain.
.
Tentu ini menjadi kesempatan emas bagi kaum Kristen untuk menguasai daerah kaum muslimin. Di saat kondisi kaum muslimin sedang lemah dikarenakan adanya konflik internal, pihak Kristen mulai berani menyerang kaum muslimin. Bukannya bersatu untuk melawan serangan Kristen, melainkan hal yang dilakukan kaum muslimin adalah melakukan perjanjian damai dengan pihak Kristen dan tetap melanjutkan konflik sesama muslim.
.
Puncak dari detik-detik kejatuhan Toledo ditandai dengan pemberontakan rakyat Toledo kepada Yahya Al Qadir yang menyebabkan ia melarikan diri. Naiklah Al Mutawakil bin Al Afthas menjadi pemimpin. Namun kepemimpinan Al Mutawakil tidak lama.
.
Al Qadir merebut kembali Toledo dengan bantuan dari Alfonso, yaitu putra Ferdinand. Ternyata bantuan dari Alfonso tersebut ada maksud tersembunyi. Terbukti pada tahun 477 H/1084 M, Alfonso melakukan pengepungan. Rakyat melawan, sedangkan Al Qadir hanya berdiam diri melihat pengepungan tersebut karena ia sudah ‘kongkalikong’ dengan Alfonso. Pengepungan yang berlangsung selama sembilan bulan tersebut membuat rakyat Toledo semakin tertekan.
.
Maka, mereka mengirim delegasi untuk membicarakan perjanjian damai. Namun perjanjian damai tersebut tidak pernah tercapai karena rakyat Toledo sudah tidak memilki apa-apa lagi. Akhirnya pada Shafar 478 H/1085 M, Toledo jatuh ke tangan Alfonso dan menjadi pusat kerajaan Castille.
.
Referensi: "Bangkit dan Runtuhnya Andalusia" karangan DR. Raghib As-Sirjani.
IG : @gen.saladin
Jumat, 24 Mei 2019
Kisah Mahmud Al Ghazni dan Berhala Somnath
Kisah Mahmud Al Ghazni dan Berhala Somnath
Islam pernah menjadi bagian sangat inti dari kehidupan bangsa India selama nyaris 800 tahun. Keadilan yang disebarkan Islam membuat penduduk setempat jatuh cinta, sebab Islam mengajarkan persamaan, bukan kasta-kasta.
Sebagaimana kamu tahu, di feed-feed Instagram sebelumnya kita pernah membahas kisah Muhammad bin Qasim Ats Tsaqafy, anak muda 17 tahun yang memimpin pembebasan India dan Pakistan. Perjuangannya berlanjut dan dakwah terus menyebar sampai ke pelosok Himalaya.
Salah satu icon muslim yang mengubah sejarah India adalah Sultan Mahmud Al Ghazni (971-1030 M). Ia lelaki cerdas yang mencintai Ulama. Orang-orang di masanya menggambarkan beliau setegas Umar bin Khattab, sebab perangainya sangat tegas melarang kemungkaran. Ia membasmi tempat-tempat maksiat, judi, minuman keras dan korupsi. Wilayah yang dibebaskan oleh beliau juga nyaris setara dengan luas yang dibebaskan di masa Khalifah Umar bin Khattab.
Meskipun begitu, beliau tidak pernah melarang penduduk yang beragama Hindu untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka, namun Sultan tidak mengizinkan mereka menyembah berhala. Dalam ajaran Hindu sendiri, sebenarnya tidak ada ajaran untuk menyembah patung. Itulah yang membuat Sultan Mahmud Al Ghazni melakukan agenda pembersihan wilayah kekuasaannya dari berhala-berhala yang bisa menurunkan azab Allah.
Selama agenda pembersihan berhala, ada 10 ribu patung-patung yang dihancurkan oleh pasukan Muslimin. Namun, orang-orang yang menyembah berhala nyinyir sembari berkata, "patung-patung itu hancur karena tidak disukai oleh Somnath. Kalau saja Somnath menyukai patung-patung itu, pasti orang yang menghancurkannya akan mendapat bencana."
Pada awalnya Sultan Mahmud Al Ghazni tidak ambil pusing dengan perkataan mereka. Namun semakin hari, apa yang mereka katakan semakin mereka yakini. Somnath, bagi mereka, tak akan terkalahkan. Pasukan Muslimin pun tak akan bisa menghancurkan Somnath.
Karena hal itulah, Mahmud Al Ghazni memutuskan untuk berangkat bersama 30 ribu mujahid menuju Kuil Somnath untuk meruntuhkan keyakinan khurafat penyembah berhala. Dengan hancurnya Somnath, beliau ingin para penyembah berhala itu tahu bahwa tak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah semata. Bukan dari manusia, apalagi berhala.
.
Sesampainya di sana, tentara Muslimin melihat betapa hebatnya pertahanan yang dibuat oleh penyembah berhala untuk melindungi Somnath. Kuil itu ada di bibir pantai dan lengkap dengan penjagaan super ketat. Orang-orang berteriak pada para mujahidin, bahwa Somnath tak akan terkalahkan. Namun Mahmud Al Ghazni tak menghiraukan mereka.
.
Pada hari Jum'at setelah usai waktu dzuhur, dipimpin langsung oleh Mahmud Al Ghazni, pasukan Muslimin mulai menyerang Somnath dan terjadilah pertempuran yang amat sengit. Para penyembah Somnath percaya mati-matian bahwa sang dewa akan menolong mereka.
.
Namun keadaan begitu cepat berbalik. Pasukan Muslimin berhasil menjebol satu persatu benteng dan barisan pasukan musuh hingga sampai ke kuil Somnath. Di saat itulah para penyembah berhala mulai ketakutan dan mengirim utusan untuk bertemu Mahmud Al Ghazni.
.
"Wahai paduka raja, kami mohon jangan hancurkan Somnath. Kami akan membayar apa saja dengan harga mahal untuk paduka asalkan jangan menghancurkannya."
.
Mahmud Al Ghazni mendengar permintaan itu, kemudian mengajak menteri-menterinya untuk memusyawarahkan keputusan yang terbaik. Pagi hari di hari selanjutnya, setelah beliau melakukan shalat istikharah beliau mengucapkan kalimat hebat yang hingga kini terabadikan dalam tinta emas sejarah Islam.
.
"Aku memikirkan apakah akan menghancurkan Sonmath atau mengambil pajak dari kalian. Namun aku membayangkan jika nanti aku dipanggil oleh Allah di padang Mahsyar, aku lebih suka ingin dipanggil sebagai 'Mahmud sang penghancur berhala' dari pada dipanggil dengan nama 'Mahmud sang pengambil pajak.'" Percakapan ini diabadikan oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah.
.
Dan subhanallah, ketika seseorang meninggalkan godaan dunia karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih besar. Ketika Mahmud Al Ghazni memerintahkan penghancuran berhala, kaum Muslimin mendapatkan ada harta senilai 1 juta dinar di dalamnya (sekitar Rp 2,5 triliun) sebagaimana ditulis Ibnu Khaldun dalam Tarikh-nya.
.
Akhirnya Kaum Muslimin masuk ke Somnath, namun hanya menghancurkan berhala-berhala saja dan tidak menyentuh sesentipun bagian kuil. Sejarawan India Romila Thapar mengabadikan bahwa selepas kejadian itu, orang-orang yang pergi ke Sonmath tak melihat adanya kerusakan sama sekali di sana.
.
References :
1. ابن الأثير: الكامل في التاريخ، 7/685.
2. ابن كثير: البداية والنهاية، 12/28.
3. Eaton, Richard M. (December 22, 2000). "Temple Desecration and Indo-Muslim States, Part I".
4. Thapar, Romila (2005). Somanatha:The Many Voices of a History
5. @gen.saladin
Selasa, 21 Mei 2019
Vienna
#TodayinHistory Vienna, ibukota Austria itu megah menawan dengan gaya arsitekturnya yang bergaya gothic, barok hingga yang modern. Membuat siapa saja yang mengunjunginya akan tahu bahwa kota ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Wajar saja, ia sejak dulu Selama berabad-abad kota ini berperan sebagai ibukota kekaisaran Habsburg dan pusat ekonomi Eropa Tengah bagian selatan.
Ia dijuluki sebagai kota musik, karena memang sejak masa lalunya, Vienna dikenal sebagai kota budaya, tempat lahirnya dari banyak bintang musik ternama seperti Schubert, Johann Strauss I, dan Brahms. Sedangkan bagi Mozart dan Bethoven, Vienna adalah kota dalam meniti karier, puncak hingga menutup mata.
Tapi barangkali anak-anak muda Muslimin tidak banyak tahu tentang sejarah lain kota ini yang pernah bersinggungan langsung dengan Kekhalifahan Utsmaniyah. Hari ini, 10 Mei tahun 1529, Sultan Sulaiman Al Qanuni berangkat bersama 120 ribu mujahid Utsmaniyah untuk menaklukkan Vienna. Budapest sudah dibebaskan terlebih dahulu.
Perjalanan menuju Vienna adalah titik terjauh ekspansi dakwah Kekhalifahan Utsmaniyah di wilayah Eropa. Mereka sudah mencapai jantung Eropa tengah dan Sang Sultan sangat bersemangat untuk menjadikan Vienna sebagai bagian dari Kekhalifahan. Namun takdir Allah berkata lain. Ikhtiar itu belum membuahkan hasil.
Meskipun begitu, para ahli sejarah mencatat bahwa hadirnya Kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Sultan Sulaiman Al Qanuni di Vienna mengisyaratkan betapa kuatnya angkatan militer Muslimin sehingga mereka bisa mencapai batas paling jauh dari ibukota Istanbul.
Vienna pun dipertahankan tidak hanya oleh penguasa setempat, melainkan oleh koalisi gabungan negara-negara Eropa yang tergabung dalam aliansi Kekaisaran Romawi suci. Setidaknya ada 6 kerajaan yang mati-matian menjaga Vienna dari ekspansi Utsmaniyah. Mereka takut jika Vienna dibebaskan, maka kota-kota Eropa lainnya juga akan dibebaskan Kaum Muslimin di hari-hari berikutnya.
Kerajaan Karlos V, Kekaisaran Romawi Suci, Kekaisaran Spanyol l, Pfalzgrafschaft bei Rhein, Kerajaan Bohemia dan para kesatria Jerman dan Ceko ikut berhamburan menjaga benteng Vienna ketika Kaum Muslimin sampai di sana.
.
Walaupun Kaum Muslimin tidak jadi membebaskan Vienna, namun penduduk kota itu menawarkan perjanjian damai dengan beberapa kesepakatan bersama. Kekhalifahan Utsmaniyah saat itu memiliki daya tawar politik yang sangat tinggi. Kedudukannya tidak bisa dianggap sebagai rival biasa, karena saat itu Utsmaniyah memiliki kemampuan menembus jantung Eropa tanpa ada yang bisa menahan lajunya.
.
Salah satu fakta unik setelah peristiwa Pengepungan Vienna, para penduduk setempat membuat roti berbentuk bukan sabit yang melambangkan Utsmaniyah. Roti berbentuk bulan sabit itu mereka buat sebagai bentuk balas dendam pada logo bendera Kekhalifahan dengan cara memakannya. Hari ini, kita mengenalnya dengan roti Croissant.
.
Referensi :
1. Shaw، Stanford J. (1976-10-29). History of the Ottoman Empire and Modern Turkey. Cambridge University Press. صفحة 93. ISBN 9780521291637. اطلع عليه بتاريخ 22 سبتمبر 2011.
2. Reston, James Jr, Defenders of the Faith: Charles V, Suleyman the Magnificent, and the Battle for Europe, 1520–1536, Marshall Cavendish, 2009, pg. 288
3. IG :@gen.saladin
Senin, 20 Mei 2019
Abbasiyah dan Masa Keemasan Islam
.
Kontributor : Muhammad Iqbal
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin
Kekhalifahan Abbasiyah merupakan salah satu kekhalifahan terbesar umat Islam. Kekhalifahan ini berpusat di Baghdad. selama 524 tahun ia menjadi penguasa dunia, dan berakhir pada tahun 656 H atau 1258 M. Ia runtuh disebabkan karena munculnya garis perpecahan antara penduduk Arab dan penduduk non Arab, antara muslim arab dan muslim baru, antara muslim dan kaum dzimmi. Sehingga memunculkan gerakan-gerakan separatis yang ingin memisahkan dirinya dari Kekhalifahan Abbasiyah.
Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, Islam dapat dikatakan memasuki masa keemasan intelektualnya. Hal ini ditandai dengan berkembangannya Ilmu pengetahuan dan peradaban Islam saat itu. Ilmuwan-ilmuwan muslim seperti al Kindi, al Khawarizmi, ar Razi, al Farabi, al Biruni, al Ghazali dan sederetan ilmuwan besar Islam lainnya berhasil menciptakan berbagai karya yang dijadian referensi peradaban dunia.
Kegemilangan tersebut tidak lahir begitu saja, Penyebabnya adalah karena kecintaan pemimpin dinasti Abbasiyah akan Ilmu Pengetahuan, akibatnya Ia memberikan dukungan besar atas gagasan yang muncul dari tokoh-tokoh ilmuwan muslim, dan membangun infrastruktur untuk mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
.
Para Pemimpin kekhalifahan Abbasiyah membangun kota Baghdad menjadi pusat dan kiblat peradaban dunia. Berbagai perpustakaan sebagai pusat-pusat telaah dan referensi ilmu pengetahuan berhasil didirikan. Salah satunya bernama Baitul Hikmah. Masa Ini berlangsung selama masa khalifah al Makmun.
Pada masa khalifah Harun al Rasyid (786 – 809 M), Dinasti Abbasiyah berhasil membangun industri kertas, ini sekaligus menjadi bukti akan kemajuan peradaban Islam masa itu. Kertas yang dihasilkan digunakan untuk menyebarkanluaskan ilmu pengetahuan, sehingga Ilmu pengetahuan dan peradaban Islam dapat berkembang lebih pesat.
Kemajuan-kemajuan yang berhasil diraih oleh Kekhalifahan Abbasiyah juga disebabkan karenan gerakan penerjamahan besar-besaran, yang dilakukan oleh pemimpin dinasti Abbasiyah pada masa itu. Gerakan ini berlangsung selama tiga fase, fase pertama selama masa Khalifah al Manshur sampai Harun al Rasyid yang menerjemahkan karya-karya astronomi dan mantiq.
.
Fase kedua terjadi pada masa Khalifah al Makmun, yang terdiri atas buku filsafat dan kedokteran. Dan Adapun fase ketiga tejadi setelah tahun 300 hijriyah, terutamanya setelah adanya Industri kertas.
.
Selain itu, kehebatan Dinasti Abbasiyah mengantarkan Islam pada masa keemasan, Juga disebabkan karena faktor asimilasi yang terjadi di kalangan bangsa Arab dengan bangsa lain, yang telah lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan. Yang menjadikan dinasti Abbsiyah berhasil membawa masa keemasan bagi Islam.
.
Sebagai seorang muslim kita tentu bangga akan pencapaian tersebut. Ingin rasanya masa keemasan itu terulang kembali. Melihat berbagai kemajuan ilmu pengetahuan didominasi oleh Islam. Hal itu bukanlah keniscayaan, jika kita umat muslim hendak bersatu, mengembalikan masa-masa keemasan dahulu. Menjadikan Islam sebagai pusat peradaban dunia.
.
Referensi : Al Khudari, Muhammad. 2016. Ad-Daulah al Abbâsiyyah. Jakarta: Pustaka Al –Kautsar.
IG : @gen.saladin
#TodayinHistory Ramadhan bukan tentang perut keroncongan. Ramadhan bukan sekadar menahan haus dan tidur siang terus menerus. Justru sebaliknya, bagi mereka yang kokoh imannya, penuh yakinnya, akan menjadikan Ramadhan sebagai bulannya aksi heroik dan momentum kepahlawanan.
Salah satunya bagi beliau, seorang legenda angkatan laut Kekhalifahan Utsmaniyah yang namanya masyhur di kalangan Admiral Eropa dengan gelar "Raja Tanpa Tahta di Mediterania" sebagaimana ditulis oleh Francesco Balbi dalam bukunya "The Siege of Malta, 1565."
Namanya Turgut Reis. Orang-orang Inggris memanggilnya "Dragut." Tidak banyak anak-anak muda Islam yang kenal baik siapa beliau, bahkan saya yakin banyak di antara teman-teman yang bahkan belum pernah dengar nama ini. Padahal, Turgut Reis ini akan jadi keyword penting yang mengantarkan kamu pada insight baru, bahwa ternyata Kaum Muslimin bisa lahir dari bangsa apa saja. Karena dia adalah putra asli negara Yunani.
Dan tepat tanggal 7 Ramadhan ini, tahun 960 Hijriah, Turgut Reis memberikan kemenangan yang spektakuler untuk dakwah Islam. Beliau berhasil membebaskan Pulau Korsika dan Kota Catania di Pulau Sicilia bersama para mujahid Angkatan Laut Kekhalifahan Utsmaniyah. Mengapa ia membebaskan Korsika?
Karena di sana, ada 7000 muslim Andalusia yang disekap, dipenjara dan diasingkan oleh aparatur militer Spanyol di Pulau Korsika. Saat itu, adalah tahun-tahun pedih ketika Kerajaan Castilla dan Aragon berhasil sepenuhnya melumatkan keberadaan Umat Islam dari daratan Spanyol. Banyak yang mengungsi, banyak yang dibunuh, banyak juga yang dimasukkan ke penjara.
Turgut Reis membawa misi khusus dari Kekhalifahan Utsmaniyah untuk melakukan mission impossible itu. Tapi, Eropa memang sudah lama mendengar namanya. Ia masyhur di berbagai catatan para pengembara dan pelaut. Dalam berbagai misi, Turgut selalu memberikan hasil terbaik. Ternyata, dia memang salah satu murid andalan pendahulunya yang juga seorang bintang; Heyreddin Barbarossa.
Di bawah kepimpinan beliau, kekuasaan maritim Kekhalifahan Utsmaniyah terbentang melintasi sepanjang Afrika Utara. Sewaktu mengabdi sebagai Gubernur di Tripoli, Turgut membangun banyak bangunan besar dan menjadikannya salah satu kota paling mengagumkan di Afrika Utara pada saat itu.
.
Referensi :
1. Naylor, Phillip Chiviges (2009). North Africa: a history from antiquity to the present. University of Texas Press. hlm. 120–121
2. 101 Min Amaliqah Ali Utsman, Bilal Abul Khair
3. 100 Udzama Ummatil Islam Jihad Turbani
4. @gen.saladin
Salah satunya bagi beliau, seorang legenda angkatan laut Kekhalifahan Utsmaniyah yang namanya masyhur di kalangan Admiral Eropa dengan gelar "Raja Tanpa Tahta di Mediterania" sebagaimana ditulis oleh Francesco Balbi dalam bukunya "The Siege of Malta, 1565."
Namanya Turgut Reis. Orang-orang Inggris memanggilnya "Dragut." Tidak banyak anak-anak muda Islam yang kenal baik siapa beliau, bahkan saya yakin banyak di antara teman-teman yang bahkan belum pernah dengar nama ini. Padahal, Turgut Reis ini akan jadi keyword penting yang mengantarkan kamu pada insight baru, bahwa ternyata Kaum Muslimin bisa lahir dari bangsa apa saja. Karena dia adalah putra asli negara Yunani.
Dan tepat tanggal 7 Ramadhan ini, tahun 960 Hijriah, Turgut Reis memberikan kemenangan yang spektakuler untuk dakwah Islam. Beliau berhasil membebaskan Pulau Korsika dan Kota Catania di Pulau Sicilia bersama para mujahid Angkatan Laut Kekhalifahan Utsmaniyah. Mengapa ia membebaskan Korsika?
Karena di sana, ada 7000 muslim Andalusia yang disekap, dipenjara dan diasingkan oleh aparatur militer Spanyol di Pulau Korsika. Saat itu, adalah tahun-tahun pedih ketika Kerajaan Castilla dan Aragon berhasil sepenuhnya melumatkan keberadaan Umat Islam dari daratan Spanyol. Banyak yang mengungsi, banyak yang dibunuh, banyak juga yang dimasukkan ke penjara.
Turgut Reis membawa misi khusus dari Kekhalifahan Utsmaniyah untuk melakukan mission impossible itu. Tapi, Eropa memang sudah lama mendengar namanya. Ia masyhur di berbagai catatan para pengembara dan pelaut. Dalam berbagai misi, Turgut selalu memberikan hasil terbaik. Ternyata, dia memang salah satu murid andalan pendahulunya yang juga seorang bintang; Heyreddin Barbarossa.
Di bawah kepimpinan beliau, kekuasaan maritim Kekhalifahan Utsmaniyah terbentang melintasi sepanjang Afrika Utara. Sewaktu mengabdi sebagai Gubernur di Tripoli, Turgut membangun banyak bangunan besar dan menjadikannya salah satu kota paling mengagumkan di Afrika Utara pada saat itu.
.
Referensi :
1. Naylor, Phillip Chiviges (2009). North Africa: a history from antiquity to the present. University of Texas Press. hlm. 120–121
2. 101 Min Amaliqah Ali Utsman, Bilal Abul Khair
3. 100 Udzama Ummatil Islam Jihad Turbani
4. @gen.saladin
Sejarah yang Hilang; Kemenangan di Djerba 1560
#TodayinHistory Lagi-lagi, ada sejarah yang hilang dari bacaan kita. Sebenarnya ia ada di berbagai literatur sejarah Eropa dan Turki. Mereka mengakui kehebatan angkatan laut Kekhalifahan Utsmaniyah. Tapi tak ada yang mau mengangkatnya jadi memoar yang dikenang. Kenapa? Karena mereka takut akan membangunkan "singa yang tertidur."
Di era Abad 16, Kaum Muslimin benar-benar memiliki izzah gagah perkasa di darat dan lautan. Secara detail, banyak sekali ahli-ahli perang Eropa yang mempelajari sejarah Utsmaniyah dan menemukan fakta bahwa kemenangan muslimin di era ini sangatlah spektakuler. Di antaranya John Hattendorf dan Ernest King dalam buku "Naval Strategy and Power in the Mediterranean: Past, Present and Future."
Ada tiga pertempuran laut paling penting sepanjang sejarah manusia terjadi di Abad 16, yaitu Pertempuran Preveza (1538, dimenangkan Kaum Muslimin) Pertempuran Djerba (14 Mei 1560, dimenangkan Kaum Muslimin) dan Pertempuran Lepanto (1571, dimenangkan koalisi seluruh Eropa). Kali ini kita akan membahas secara umum kemenangan kita di tanggal 14 Mei 1560, yang berlatar di Djerba, Tunisia.
Pertempuran Djerba terjadi antara 86 kapal Galley Kekhalifahan Utsmaniyah dan gabungan pasukan 6 negara Eropa berjumlah 200 kapal tempur. Peristiwa besar ini terjadi karena semua raja-raja Eropa gerah dengan pencapaian Kaum Muslimin yang setiap hari meluaskan ekspansi dakwahnya di banyak pulau-pulau baru seperti kepulauan Balearic di timur Spanyol. Di bawah komando Raja Phillip II, ia ingin merebut pengaruh Kaum Muslimin di Laut Mediterania.
Untuk itulah mereka meminta Paus Paul IV mengumumkan ke saentero Eropa untuk mengumpulkan sebanyak mungkin tentara guna menumpas kedigdayaan Angkatan Laut Kekhalifahan Utsmaniyah yang merajalela bahkan sampai pantai Spanyol. Berangkatlah 200 kapal dinahkodai oleh Giovanni Andrea Doria, Juan de la Cerda dan Don Alvaro de Sande.
Kaum Muslimin menyadari gerak gerik Eropa yang memberangkatkan 200 kapal tempur lengkap dengan persiapan matang. Tanpa banyak bicara, panglima maritim Kekhalifahan Utsmaniyah, Piyalet Pasha dan Turgut Reis menyiapkan 86 kapal untuk membendung serangan musuh. Bertemulah mereka di Djerba, salah satu pulau di timur Tunisia. Pertempuran pun meletus sejak 9-14 Mei 1560.
.
Dua pertiga tentara koalisi Eropa tewas dalam pertempuran laut heroik tersebut, sementara dari sisi Kaum Muslimin, ada 1000 mujahid yang menyambut kesyahidan di permukaan laut Djerba.
.
Saking hebatnya efek dari peristiwa ini, kemenangan Kaum Muslimin di Djerba diberi tempat penting dalam "The Course of Fortune" oleh Tony Rothman (J. Boylston, 2015), sebuah novel yang berkaitan dengan peristiwa yang mengarah ke Pengepungan Besar Malta, 1565.
.
Referensi :
1. www.islamstory.com
2. Matthew Carr: Blood and Faith: The Purging of Muslim Spain, The New Press, 2009
3. Ernest J King Professor of Maritime History Chairman Maritime History Department and Director Naval War College Museum John B Hattendorf; John B. Hattendorf (5 November 2013). Naval Strategy and Power in the Mediterranean: Past, Present and Future. Routledge. p. 32. ISBN 978-1-136-71317-0.
#TodayinHistory Lagi-lagi, ada sejarah yang hilang dari bacaan kita. Sebenarnya ia ada di berbagai literatur sejarah Eropa dan Turki. Mereka mengakui kehebatan angkatan laut Kekhalifahan Utsmaniyah. Tapi tak ada yang mau mengangkatnya jadi memoar yang dikenang. Kenapa? Karena mereka takut akan membangunkan "singa yang tertidur."
Di era Abad 16, Kaum Muslimin benar-benar memiliki izzah gagah perkasa di darat dan lautan. Secara detail, banyak sekali ahli-ahli perang Eropa yang mempelajari sejarah Utsmaniyah dan menemukan fakta bahwa kemenangan muslimin di era ini sangatlah spektakuler. Di antaranya John Hattendorf dan Ernest King dalam buku "Naval Strategy and Power in the Mediterranean: Past, Present and Future."
Ada tiga pertempuran laut paling penting sepanjang sejarah manusia terjadi di Abad 16, yaitu Pertempuran Preveza (1538, dimenangkan Kaum Muslimin) Pertempuran Djerba (14 Mei 1560, dimenangkan Kaum Muslimin) dan Pertempuran Lepanto (1571, dimenangkan koalisi seluruh Eropa). Kali ini kita akan membahas secara umum kemenangan kita di tanggal 14 Mei 1560, yang berlatar di Djerba, Tunisia.
Pertempuran Djerba terjadi antara 86 kapal Galley Kekhalifahan Utsmaniyah dan gabungan pasukan 6 negara Eropa berjumlah 200 kapal tempur. Peristiwa besar ini terjadi karena semua raja-raja Eropa gerah dengan pencapaian Kaum Muslimin yang setiap hari meluaskan ekspansi dakwahnya di banyak pulau-pulau baru seperti kepulauan Balearic di timur Spanyol. Di bawah komando Raja Phillip II, ia ingin merebut pengaruh Kaum Muslimin di Laut Mediterania.
Untuk itulah mereka meminta Paus Paul IV mengumumkan ke saentero Eropa untuk mengumpulkan sebanyak mungkin tentara guna menumpas kedigdayaan Angkatan Laut Kekhalifahan Utsmaniyah yang merajalela bahkan sampai pantai Spanyol. Berangkatlah 200 kapal dinahkodai oleh Giovanni Andrea Doria, Juan de la Cerda dan Don Alvaro de Sande.
Kaum Muslimin menyadari gerak gerik Eropa yang memberangkatkan 200 kapal tempur lengkap dengan persiapan matang. Tanpa banyak bicara, panglima maritim Kekhalifahan Utsmaniyah, Piyalet Pasha dan Turgut Reis menyiapkan 86 kapal untuk membendung serangan musuh. Bertemulah mereka di Djerba, salah satu pulau di timur Tunisia. Pertempuran pun meletus sejak 9-14 Mei 1560.
.
Dua pertiga tentara koalisi Eropa tewas dalam pertempuran laut heroik tersebut, sementara dari sisi Kaum Muslimin, ada 1000 mujahid yang menyambut kesyahidan di permukaan laut Djerba.
.
Saking hebatnya efek dari peristiwa ini, kemenangan Kaum Muslimin di Djerba diberi tempat penting dalam "The Course of Fortune" oleh Tony Rothman (J. Boylston, 2015), sebuah novel yang berkaitan dengan peristiwa yang mengarah ke Pengepungan Besar Malta, 1565.
.
Referensi :
1. www.islamstory.com
2. Matthew Carr: Blood and Faith: The Purging of Muslim Spain, The New Press, 2009
3. Ernest J King Professor of Maritime History Chairman Maritime History Department and Director Naval War College Museum John B Hattendorf; John B. Hattendorf (5 November 2013). Naval Strategy and Power in the Mediterranean: Past, Present and Future. Routledge. p. 32. ISBN 978-1-136-71317-0.
Minggu, 19 Mei 2019
#TodayinHistory Anak muda itu tak pernah berhenti memecah kesunyian. Ia, masih dengan mimpinya, bertekad penuh untuk membangun kembali serpihan-serpihan Kekhalifahan Umayyah yang baru saja dihancurkan oleh klan Abbasiyah. Keluarganya dikejar, diperangi. Umayyah telah mati, tergantikan dengan dinasti baru. Namun jiwa si anak muda ini belum mati.
Ya, sejak Abbasiyah menaklukkan Umayyah di Timur Tengah, dia pun masuk dalam daftar pencarian orang. Semua tentara dikerahkan untuk mengejarnya. Di tengah masa yang pelik itu, akhirnya ia memberanikan diri berenang berkilo-kilo membelah sungai Tigris. Usianya masih 19 tahun saat itu. Dari negerinya, ia pergi jauh ke arah barat, menuju Afrika untuk mengumpulkan kekuatan baru, membangun negara baru.
Abdurrahman bin Muawiyah, darah Kekhalifahan Umayyah mengalir deras di nadinya. Hanya dia satu-satunya yang selamat dan hanya dia yang mampu membuat gerakan besar untuk membangun negara Umayyah. Tapi dimana? Dimana negeri yang cukup besar dan terpisah dari Abbasiyah untuk dijadikannya negara?
Jawabannya; Andalusia. Abdurrahman bin Muawiyah menyebrang di 15 Ramadhan 138 Hijriah menuju wilayah Andalusia yang indah itu. Dia dengan bala tentara setianya akan membangun negeri baru di atas Andalusia yang kala itu sedang krisis kepemimpinan. Singgasana pemimpin diperebutkan, sebagaimana game of thrones. Banyak kabilah saling berperang, banyak yang mengklaim diri sebagai penguasa.
Di saat-saat krisis itulah Abdurrahman bin Muawiyah masuk ke Andalusia dan menyatukan semua kekuatan-kekuatan umat menjadi satu padu. Di usianya yang ke-25, ia berhasil membangun Emirat Umayyah di Spanyol, yang kelak akan bertahan berabad-abad lamanya. Itulah yang membuatnya digelari sebagai "Abdurrahman Ad Dakhil", atau "Abdurrahman The Entrant" Sang Pendatang di Andalusia.
Hari ini kita mengenang lelaki hebat itu, yang digelari juga sebagai "Shaqr Quraisy", "the Falcon of the Quraysh", Rajawali Quraisy. Dia menjadi tokoh inspirasi karena dia berjuang dengan gigih, dengan cerdas dan tuntas. Walaupun Beliau diperlakukan sebagai buron Abbasiyah, pada akhirnya beliau tetap menjadi orang yang setia dengan Islam dan syariat-Nya. Bahkan di cincinnya tertulis kalimat, "عبد الرحمن بقضاء الله راض" Abdurrahman ridha dengan ketentuan Allah.
.
Selama kepemimpinannya, pencapaian besar dan kemajuan berlipat-lipat dirasakan oleh penduduk Andalusia seluruhnya tanpa terkecuali. Ia menekankan pentingnya masjid dan ilmu, persatuan dan pendidikan, juga jihad di jalan Allah. Di masanya, ia bersinggungan dengan Kaisar Charlemagne dan raja-raja Eropa lainnya. Saat itu Kaum Muslimin memiliki izzah yang tinggi dan menjadi global player.
.
References :
1. ابن القوطية، أبو بكر محمد بن عمر (1989). تاريخ افتتاح الأندلس. دار الكتاب المصري، القاهرة - دار الكتاب اللبناني، بيروت
2. ابن عذاري، أبو العباس أحمد بن محمد (1980). البيان المغرب في اختصار أخبار ملوك الأندلس والمغرب. دار الثقافة، بيروت
@gen.saladin
Utsman bin Affan
Kontributor : @rahayunengati
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin
Terlahir pada tahun 574 masehi dari seorang ibu yang bernama Arwa binti Kuraiz dan ayahnya bernama Affan bin Abu al-Ash keturunan dari saudagar kaya yang ternyata nasabnya bertemu dengan Rasulullah ﷺ pada kakek ke-5 yang bernama Abdi Manaf, orang tua Utsman menjaga keimanan dari menyembah berhala. Utsman bin Affan menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad yang terkenal dermawan dan lembut hatinya, serta amat pemalu.
Dengan keutamaan sifat yang dimilikinya sampai-sampai beliau juga di gelari "Dzun Nurain" yaitu sang pemilik dua cahaya karena menikah dengan dua putri Nabi Muhammad ﷺ yaitu Ruqayyah dan Umi kultsum. Pernikahan beliau dengan Ruqayyah melahirkan satu orang putra bernama Abdullah bin Utsman yang wafat kala masih kecil. Setelah Ruqayyah wafat, barulah beliau dinikahkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan Umi Kultsum.
Utsman bin Affan mampu menggabungkan antara kekayaan dengan agama, dimana beliau adalah saudagar kaya raya namun hartanya tidak menjadikan ia cinta dunia. Beliau tidak pernah jauh dengan Al Qur'an dan apabila bersedekah tidak pernah itung-itungan. Kedermawanannya selalu menjadi solusi di tengah permasalahan umat.
Sifatnya yang selalu terjaga dari menyembah berhala, dari berbuat maksiat membuatnya mudah dalam menerima cahaya kebenaran Islam dengan ajakan dari Abu Bakar as Shidiq, tidak perlu waktu yang lama beliau langsung mengimani ajaran islam. Hati yang bersih membuat seseorang mudah menerima nasehat kebaikan, maka sepatutnya kita butuh instorspeksi jika terkadang susah menerima kebaikan bisa jadi hati kita sedang tercemar kejelekan.
Kedermawanannya tercatat dalam sejarah dimana beliau membeli sumur raumah milik Yahudi dengan harga 20.000 dirham, beliau sedehkankan sumur tersebut untuk kebutuhan umat di Madinah yang kala itu dilanda kekeringan. Hingga Nabi katakan, siapa yang bersekah dengan sumur raumah maka balasannya surga.
Tak kalah hebat lagi sedekah beliau di perang Tabuk berupa 900 ekor unta, 100 kuda dan 1.000 dinar yang beliau letakkan di pangkuan Rasulullah SAW. Dimana kala itu dikenal dengan kondisi sulitnya akibat musim panas yang amat menyengat, paceklik dan kekurangan hewan tunggangan hingga disebut dengan "Yaumul 'Usrah."
.
Beliau menjadi khalifah di usia 70 tahun, di bawah kepemimpinannya, Umat Islam memiliki armada laut pertama. Tunisia di Afrika Utara ditaklukkan melalui perang besar melawan Romawi, beliau melanjutkan kebijakan Umar bin Khattab dengan menaklukan wilayah di luar jazirah Arab.
.
Selama 6 tahun pertama memerintah, beliau berhasil mengislamkan Afrika Utara, Armenia dan Taberistan, negeri Bal, Hara, Kabul Afghanistan dan Turkistan di Asia. Beliau juga pengumpul Al qur'an, hingga kini digunakan oleh muslim seluruh dunia yang biasa dikenal dengan Mushaf Utsmani.
.
Beliau bukanlah orang yang hebat dalam dunia peperangan, tak pula lisannya selihai Abu Bakar as Shidiq dalam meyakinkan orang akan islam namun sedekah yang telah beliau berikan membuatnya berkali-kali mendapat jaminan surga. Ya.. Sedekah adalah amal unggulan Utsman bin Affan yang orang lain kesulitan untuk menyamainya.
.
Pada periode ke dua kepemimpinannya beliau di fitnah oleh Abdullah bin Saba' hingga menuntut untuk turun jabatan. Wafatnya di hari kamis tahun ke-35 Hijriah dengan dibunuh oleh para pelaku fitnah, yang kala itu beliau sedang membaca Al Qur'an dan dalam keadaan berpuasa. Hingga akhirnya maut menjemput dan mengantarkannya berbuka bersama Nabi Muhammad ﷺ di surga.
.
Sumber : ceramah Ustad Budi Ashari
@gen.saladin
Kontributor : @rahayunengati
Diedit dan diselia oleh @gen.saladin
Terlahir pada tahun 574 masehi dari seorang ibu yang bernama Arwa binti Kuraiz dan ayahnya bernama Affan bin Abu al-Ash keturunan dari saudagar kaya yang ternyata nasabnya bertemu dengan Rasulullah ﷺ pada kakek ke-5 yang bernama Abdi Manaf, orang tua Utsman menjaga keimanan dari menyembah berhala. Utsman bin Affan menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad yang terkenal dermawan dan lembut hatinya, serta amat pemalu.
Dengan keutamaan sifat yang dimilikinya sampai-sampai beliau juga di gelari "Dzun Nurain" yaitu sang pemilik dua cahaya karena menikah dengan dua putri Nabi Muhammad ﷺ yaitu Ruqayyah dan Umi kultsum. Pernikahan beliau dengan Ruqayyah melahirkan satu orang putra bernama Abdullah bin Utsman yang wafat kala masih kecil. Setelah Ruqayyah wafat, barulah beliau dinikahkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan Umi Kultsum.
Utsman bin Affan mampu menggabungkan antara kekayaan dengan agama, dimana beliau adalah saudagar kaya raya namun hartanya tidak menjadikan ia cinta dunia. Beliau tidak pernah jauh dengan Al Qur'an dan apabila bersedekah tidak pernah itung-itungan. Kedermawanannya selalu menjadi solusi di tengah permasalahan umat.
Sifatnya yang selalu terjaga dari menyembah berhala, dari berbuat maksiat membuatnya mudah dalam menerima cahaya kebenaran Islam dengan ajakan dari Abu Bakar as Shidiq, tidak perlu waktu yang lama beliau langsung mengimani ajaran islam. Hati yang bersih membuat seseorang mudah menerima nasehat kebaikan, maka sepatutnya kita butuh instorspeksi jika terkadang susah menerima kebaikan bisa jadi hati kita sedang tercemar kejelekan.
Kedermawanannya tercatat dalam sejarah dimana beliau membeli sumur raumah milik Yahudi dengan harga 20.000 dirham, beliau sedehkankan sumur tersebut untuk kebutuhan umat di Madinah yang kala itu dilanda kekeringan. Hingga Nabi katakan, siapa yang bersekah dengan sumur raumah maka balasannya surga.
Tak kalah hebat lagi sedekah beliau di perang Tabuk berupa 900 ekor unta, 100 kuda dan 1.000 dinar yang beliau letakkan di pangkuan Rasulullah SAW. Dimana kala itu dikenal dengan kondisi sulitnya akibat musim panas yang amat menyengat, paceklik dan kekurangan hewan tunggangan hingga disebut dengan "Yaumul 'Usrah."
.
Beliau menjadi khalifah di usia 70 tahun, di bawah kepemimpinannya, Umat Islam memiliki armada laut pertama. Tunisia di Afrika Utara ditaklukkan melalui perang besar melawan Romawi, beliau melanjutkan kebijakan Umar bin Khattab dengan menaklukan wilayah di luar jazirah Arab.
.
Selama 6 tahun pertama memerintah, beliau berhasil mengislamkan Afrika Utara, Armenia dan Taberistan, negeri Bal, Hara, Kabul Afghanistan dan Turkistan di Asia. Beliau juga pengumpul Al qur'an, hingga kini digunakan oleh muslim seluruh dunia yang biasa dikenal dengan Mushaf Utsmani.
.
Beliau bukanlah orang yang hebat dalam dunia peperangan, tak pula lisannya selihai Abu Bakar as Shidiq dalam meyakinkan orang akan islam namun sedekah yang telah beliau berikan membuatnya berkali-kali mendapat jaminan surga. Ya.. Sedekah adalah amal unggulan Utsman bin Affan yang orang lain kesulitan untuk menyamainya.
.
Pada periode ke dua kepemimpinannya beliau di fitnah oleh Abdullah bin Saba' hingga menuntut untuk turun jabatan. Wafatnya di hari kamis tahun ke-35 Hijriah dengan dibunuh oleh para pelaku fitnah, yang kala itu beliau sedang membaca Al Qur'an dan dalam keadaan berpuasa. Hingga akhirnya maut menjemput dan mengantarkannya berbuka bersama Nabi Muhammad ﷺ di surga.
.
Sumber : ceramah Ustad Budi Ashari
@gen.saladin
Langganan:
Komentar (Atom)
STASIUN TUNTANG
STASIUN TUNTANG Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...
-
Generasi Shalahuddin @edgarhamas #TodayInHistory situs islamstory.com yang diasuh langsung oleh Dr Raghib Sirjani hari ini memberikan sa...
-
Candi Gedong Songo Magelang, 29 November 2025 Aku dan temanku mengunjungi Kabupaten Semarang. Tepatnya Candi Gedong Songo, tepat di bawah ka...
-
Temanggung Setelah dari Situs Liyangan, aku dan adikku mampir ke Masjid Agung Darussalam Temanggung. Di sana, aku melaksanakan salat Asar, l...





