#TodayinHistory Vienna, ibukota Austria itu megah menawan dengan gaya arsitekturnya yang bergaya gothic, barok hingga yang modern. Membuat siapa saja yang mengunjunginya akan tahu bahwa kota ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Wajar saja, ia sejak dulu Selama berabad-abad kota ini berperan sebagai ibukota kekaisaran Habsburg dan pusat ekonomi Eropa Tengah bagian selatan.
Ia dijuluki sebagai kota musik, karena memang sejak masa lalunya, Vienna dikenal sebagai kota budaya, tempat lahirnya dari banyak bintang musik ternama seperti Schubert, Johann Strauss I, dan Brahms. Sedangkan bagi Mozart dan Bethoven, Vienna adalah kota dalam meniti karier, puncak hingga menutup mata.
Tapi barangkali anak-anak muda Muslimin tidak banyak tahu tentang sejarah lain kota ini yang pernah bersinggungan langsung dengan Kekhalifahan Utsmaniyah. Hari ini, 10 Mei tahun 1529, Sultan Sulaiman Al Qanuni berangkat bersama 120 ribu mujahid Utsmaniyah untuk menaklukkan Vienna. Budapest sudah dibebaskan terlebih dahulu.
Perjalanan menuju Vienna adalah titik terjauh ekspansi dakwah Kekhalifahan Utsmaniyah di wilayah Eropa. Mereka sudah mencapai jantung Eropa tengah dan Sang Sultan sangat bersemangat untuk menjadikan Vienna sebagai bagian dari Kekhalifahan. Namun takdir Allah berkata lain. Ikhtiar itu belum membuahkan hasil.
Meskipun begitu, para ahli sejarah mencatat bahwa hadirnya Kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Sultan Sulaiman Al Qanuni di Vienna mengisyaratkan betapa kuatnya angkatan militer Muslimin sehingga mereka bisa mencapai batas paling jauh dari ibukota Istanbul.
Vienna pun dipertahankan tidak hanya oleh penguasa setempat, melainkan oleh koalisi gabungan negara-negara Eropa yang tergabung dalam aliansi Kekaisaran Romawi suci. Setidaknya ada 6 kerajaan yang mati-matian menjaga Vienna dari ekspansi Utsmaniyah. Mereka takut jika Vienna dibebaskan, maka kota-kota Eropa lainnya juga akan dibebaskan Kaum Muslimin di hari-hari berikutnya.
Kerajaan Karlos V, Kekaisaran Romawi Suci, Kekaisaran Spanyol l, Pfalzgrafschaft bei Rhein, Kerajaan Bohemia dan para kesatria Jerman dan Ceko ikut berhamburan menjaga benteng Vienna ketika Kaum Muslimin sampai di sana.
.
Walaupun Kaum Muslimin tidak jadi membebaskan Vienna, namun penduduk kota itu menawarkan perjanjian damai dengan beberapa kesepakatan bersama. Kekhalifahan Utsmaniyah saat itu memiliki daya tawar politik yang sangat tinggi. Kedudukannya tidak bisa dianggap sebagai rival biasa, karena saat itu Utsmaniyah memiliki kemampuan menembus jantung Eropa tanpa ada yang bisa menahan lajunya.
.
Salah satu fakta unik setelah peristiwa Pengepungan Vienna, para penduduk setempat membuat roti berbentuk bukan sabit yang melambangkan Utsmaniyah. Roti berbentuk bulan sabit itu mereka buat sebagai bentuk balas dendam pada logo bendera Kekhalifahan dengan cara memakannya. Hari ini, kita mengenalnya dengan roti Croissant.
.
Referensi :
1. Shaw، Stanford J. (1976-10-29). History of the Ottoman Empire and Modern Turkey. Cambridge University Press. صفحة 93. ISBN 9780521291637. اطلع عليه بتاريخ 22 سبتمبر 2011.
2. Reston, James Jr, Defenders of the Faith: Charles V, Suleyman the Magnificent, and the Battle for Europe, 1520–1536, Marshall Cavendish, 2009, pg. 288
3. IG :@gen.saladin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar