Minggu, 07 Februari 2021

Memahami LOA

 Memahami LOA Secara Benar


#Diskusi_MetaFisika

#BawahSadar #Kebenaran

#Semesta #Diri #LOA #LawOfAttraction


Demikian pula ketika memahami kebenaran hukum LOA.


Hukum LOA terlihat sebagai campur tangan semesta level bawah sadar, bahkan melibatkan supra sadar. Tetapi sebenarnya justru disitulah campur tangan Tuhan SECARA LANGSUNG!


Penampakan semesta bawah sadar, atau terungkapnya dimensi supra sadar. Terungkapnya dimensi metafisika secara ilmiah, hanyalah tanda adanya Kuasa Cerdas, tetapi bukan tanda ada sesuatu diluar Dia Yang Maha Mengatur.


Sebenarnya energi semesta adalah gerak langsung Kehendak-Nya.


Seseorang yang dihipnotis, lalu dilakukan sugesti bahwa setiap kali meminum air putih akan terasa manis, maka disaat meminum air putih dan Tuhan langsung menjadikan rasa manis bagi mereka yang tersugesti.


Hipnotis itu adalah tanda langsung campur tangan-Nya.


Mereka hanya tak menyadari karena hukum semesta bekerja dengan berdiam diri tanpa komunikasi, seolah terpisah dari-Nya, padahal jika mereka tersambung dengan-Nya maka mereka sadar bahwa "Itulah kehendak-Nya seketika, hanya saja terjadi membisu bagai bukan Dia"


Dari situlah kita menyaksikan bukti nyata penegakan keadilan


Jadi? LOA adalah bukti nyata kerja Dia secara langsung, bukan semesta

------


Mereka yang berkata

--- "Serahkan pada semesta, dan biarkan masalahnya beres" , INI KESALAHAN!

--- "Biarkan semesta yang bekerja untuk kita", INI JUGA KESALAHAN!


Bukan semesta yang bekerja, tetapi Tuhan Yang Menunjukkan KeKuasaan.


KERJA TUHAN


Mereka meyakini bahwa LOA terpisah dari Tuhan, melainkan kerja semesta, karena hukum LOA yang nampak melalui proses hipnotis, mengikuti kehendak kita, lalu bagaimana mungkin Tuhan mengikuti kehendak kita? SALAH!


Justru perwujudan seketika melalui proses hipnotis atau yang lebih tinggi sampai level supra sadar, itu adalah tanda keadilan yang terjadi secara seketika tanpa ampun!


Tanda nyata keadilan Tuhan yang teramati melalui ciptaan-Nya (semesta bawah sadar & semesta supra sadar)


Mereka mengira gerak jantung adalah gerak reflek? Tidak! Itu adalah bukti gerak Tuhan secara langsung terhadap kita.


Jadi, kita tidak sendiri, ada Tuhan beserta kita

Meta apa itu meta ?

 SANG META

February 7, 2021 by Seremonia





Ada kisah tentang sang “meta”

Bagaimana sebenarnya keadaan agama terhadap filsafat & metafilsafat.

Pada awalnya hanya ada keluasan, suatu tempat yang sangat luas, sehingga cahaya kitapun tak dapat menjangkau tepinya.

Itulah kita, seorang filsuf dengan memegang cahaya yang boleh jadi sangat redup, ada yang cahanya terang dan juga yang sangat terang.

Kita sebenarnya telah lama berdiam diri, beraktifitas di wilayah KeTuhanan dari batas bumi sampai langit, dari batas bumi sampai batas metafisika.

Kita menyinari tempat tinggal dengan sinar penerang kegelapan. Dengan sinar logika menerangi kesesatan berpikir, dengan sinar eksperimen (sains) menerangi hubungan sebab-akibat.

Tetapi bagaimana kita mengetahui realita metafisika yang berkesinambungan dengan realita kehidupan sehari-hari?

Rupanya agama mulai bersuara. Ini adalah tempat para filsuf. Mereka para filsuf tak menyadari dimana mereka berpijak.

Mendadak tempat kita berpijak menampakkan geraknya. Agama datang menyerukan kebenaran. Itulah tempat yang menaungi filsuf.

Selama ini filsafat merasa berjarak atau bahkan terpisah dari agama, padahal selama ini dia berdiri di dataran agama.

Cahaya filsafat mereka tidak cukup menerangi bahwa ada pemilik dari taman ini.

Dan ketika pemiliknya berkata-kata, maka sadarlah bahwa selama ini ada sesuatu selain dari kita sang filsuf.

Sang filsuf berusaha menapaki taman dengan berbagai jenis sinar untuk memastikan ada apa gerangan dengan agama.

Agama menyuarakan tempat yang sangat luas, bahwa semua adalah kesatuan yang meliputi para filsuf.

Tugas filsuf hanya mencoba mengarahkan sinarnya ke arah yang ditunjuk oleh agama, agar mereka menyadari jalan-jalan yang selama ini tertutup, yang membentang dari batas bumi sampai seluas langit.

Lagi-lagi, sang filsuf menggunakan penerang yang salah untuk menerangi tempat yang ditunjuk.

Ini suatu kecerobohan yang fatal. Filsafat disuruh menerangi tempatnya sendiri seluas agama, tetapi dengan cahaya yang redup. Maka, gelaplah penglihatan dari jalan yang ditunjuk oleh agama.

Jadi sebenarnya tiada jarak antara agama & filsafat. Filsafatlah yang bertempat di wilayah luas keagamaan - wilayah luas KeTuhanan. Filsafat diminta menyinari tempatnya sendiri, tetapi hanya mampu menelusuri tempatnya sendiri tak sejauh yang diharapkan oleh agama.

Maka pemilik tempat yang luas ini, yang bernama agama, mengirimkan orang-orang yang dikenal sebagai Nabi, juga orang bukan dari kalangan Nabi, juga dikirim ilmuwan yang sempurna tak berat sebelah, dan terus-menerus dikirimkan tak kenal henti, yang dikenal sebagai kaum "meta". Mereka adalah kaum diluar para filsuf. Mereka memiliki ajaran / pendekatan melampaui para filsuf. Suatu pendekatan metafilsafat.

Mereka para "meta" memiliki cahaya yang seimbang. Mereka inilah yang dapat meminjamkan cahayanya kepada para filsuf untuk menerangi tempatnya sendiri.

Para "meta" adalah kaum yang dengan pendekatannya tidak melupakan sifat kemanusiaan mereka sendiri.

Mereka kaum "meta" menyadari telah memiliki cahaya yang sesuai untuk menerangi tempat luas yang bernama agama. Cahaya yang sebenarnya juga dimiliki para filsuf tetapi justru diabaikan oleh kaum filsuf itu sendiri.

Bagaimanakah sebenarnya cahaya yang telah ada pada para filsuf yang dapat menerangi jalan-jalan kebenaran yang masih gelap? Cahaya yang diketahui oleh kaum "meta"?

Mereka para filsuf menggunakan cahaya ekperimen, cahaya penalaran. Bagi mereka ini adalah cahaya yang paling masuk akal. Cahaya yang dapat menyoroti hubungan sebab-akibat. Sayangnya wilayah yang diduduki mereka para filsuf, adalah wilayah yang sangat luas, seluas bumi & langit, dan ada pula wilayah metafisika yang lebih menjanjikan bagi masa depan mereka.

Wilayah metafisika yang jika para filsuf bisa mendatanginya, maka dari sana pandangan mereka lebih luas dan sinar di dataran metafisika lebih terang melampaui terangnya matahari & tak menyilaukan. Suatu dataran yang bertingkat-tingkat tingginya dan lebih tinggi dari dataran yang selama ini diinjak oleh para filsuf. Dari dataran tinggi inilah seharusnya para filsuf dapat melihat kebenaran kehidupan dibawahnya lebih jelas tanpa pertentangan.

Hanya saja dataran tinggi ini memberikan banyak tantangan. Mereka yang menuju bukit tinggi ini, memerlukan cahaya yang terus menerus menerangi sepanjang jalan tak pernah redup karena keputus-asaan. Juga harus dengan cahaya yang benar, cahaya yang terang benderang seperti cahaya yang menyilaukan yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang diberkahi.

Dataran tinggi, jalan yang mendaki lagi melelahkan. Yang tiada hak kecuali bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Mereka, banyak dari para filsuf yang membekali dengan sinar yang diambil dari penalaran, tetapi tidak dapat menerangi jalan seluas-luasnya tanpa terjatuh ke jurang lalu bangkit dengan keputus-asaan.

Mereka yang menggunakan penalaran yang semakin kuat, semakin terang, dan tanpa diduga menghadapi kabut tebal dalam pendakian.

Kabut tebal ini menyamarkan pandangan mereka. Mereka meraba-raba dan semakin mendaki menuju puncak kejayaan, semakin nampak semuanya serba sama, akibat pandangan yang berkabut.

Banyak yang berguguran, dan digantikan oleh pejuang "meta".

Perlu cahaya baru dalam menerangi samarnya pandangan. Bukan hanya cahaya penalaran, tetapi cahaya imajinasi.

Kaum "meta" menggunakan cahaya imajinasi yang merenungkan realita, sehingga semakin kuat lagi dalam melakukan perabaan. Mulailah menduga-duga, mulailah memperkirakan. Dan hubungan sebab-akibat menjadi lebih jelas.

Mendadak mereka kaum "meta" tidak hanya menemukan kebenaran partikular, melainkan imajinasinya meluas ke batas-batas puncak gunung yang bahkan belum mereka lalui. Mereka menemukan kebenaran aksiomatis. Sampai disini, kaum "meta" meninggalkan para filsuf yang masih berjuang di lembah kebenaran.

Mereka kaum "meta" pada akhirnya dapat memilih jalan berbeda yang tak terhalangi kabut. Lalu, mereka melihat kaum "meta" lain yang lebih dulu sampai dipertengahan jalan.

Jika "meta" pemula mau terbuka, rela menerima uluran tangan dari "meta" pendahulu, maka kaum "meta" pertengahan juga lebih mudah berbagi.

Lalu, kaum "meta" pertengahan berbagi cahaya. Mereka melemparkan gulungan kain kebenaran ke bawah. Kain kebenaran ini bertuliskan cara menemukan dan cara menggunakan cahaya baru. Mereka mengungkapkan bahwa ada cuaca dingin siap menghadang, dan tidak bisa lagi dengan melakukan perkiraan. Imajinasi tak sanggup menghadapi.

Diperlukan cahaya yang berbeda. Cahaya metafisika. Cahaya yang terbit dari kedalaman diri.

Cahaya ini hanya bangkit jika kita mampu menenangkan diri, sehingga energi tidak mudah lenyap. Ketenangan inilah yang mampu menguatkan sang "meta" menghadapi dinginnya malam.

Maka berjalanlah sang "meta" pemula dengan cahaya ketenangan, untuk menghampiri sang "meta" pertengahan.

Mereka menenangkan diri sehingga semakin terfokuslah kesadaran mereka. Keadaan ketenangan meditatif. Lalu, sampailah di titik pertengahan tanpa menjumpai kaum "meta" pertengahan yang telah sampai di puncak gunung.

Disini kaum "meta" awal melihat di kejauhan adanya kaum "meta" yang bersandar di dataran ketinggian. Kedua kaum "meta" berbeda cahaya penerang saling berkomunikasi dari kejauhan, dan makin sadarlah bahwa untuk mencapai puncak diperlukan satu saja kesederhanaan, yaitu tiada putus asa.

Maka, dengan tekad, kaum "meta" awal, dengan cahaya ketenangannya berjalan terus mencapai puncak dan berhasil.

Dibatas atas, mereka bertemu dengan kaum "meta" dari generasi paling awal mencapai puncak. Dikabarkan bahwa sebenarnya di lembah, banyak kaum "meta" dari golongan kami yang turun ke bawah, hanya saja diabaikan oleh para filsuf.

Maka kaum "meta" yang telah bersusah payah melakukan pendakian sampai puncak, mulai turun ke lembah, menemui para filsuf, dan menjelaskan cahaya-cahaya yang seharusnya dipakai. Kaum "meta" juga memberitahukan bahwa di batas atas terlihat banyak kebenaran aksioma yang mereka pahami tanpa berpikir, melainkan hanya dengan memetiknya lalu dimakan agar menyatu dengan dirinya.

Ada beberapa filsuf yang percaya dan mengikuti ajaran dari kaum "meta" yang mengajarkan cahaya kebenaran melalui aksioma serta praktek ketenangan melalui meditasi.

#Diskusi_MetaFisika 

#Meta #Agama #Filsafat 

#MetaFilsafat

Kaum "meta" yang menyadarkan kaum "filsuf" bahwa selama ini kaum filsuf tinggal di wilayah agama tanpa mereka sadari.

Kaum "meta" yang menyadarkan kaum "filsuf" bahwa pertentangan antara filsuf dan agama sebenarnya adalah pertentangan antara kaum filsuf dengan kaum "meta" itu sendiri yang dikirim langsung oleh pemilik wilayah ini dimana kaum filsuf tinggal di wilayah keagamaan.

Jadi seharusnya tiada pertentangan antara kaum filsuf dengan kebenaran sudut-sudut agama yang menjadi tempat tinggalnya sendiri.

Mereka kaum filsuf tidak mengenali tempat tinggalnya sendiri, melainkan hanya dengan meraba. Berbeda dengan kaum "meta" yang mengenali sudut-sudut agama tempat tinggalnya mereka.

Kaum "meta" yang menjaga keseimbangan.

Kaum "meta", yang menyadarkan bahwa sudut-sudut metafisika memiliki konsistensi.

Mereka inilah, kaum "meta" yang mengajarkan cahaya kepada para filsuf, disebut sebagai kaum "metafilsuf" - kaum yang diteladani filsuf - metafilsuf.

Dan tugasnya adalah mengungkapkan "meta" yang meluruskan "filsafat". Melampaui filsafat - metafilsafat


https://medium.com/@Seremonia/sang-meta-6db004e88d52?_branch_match_id=887169965573340860

STASIUN TUNTANG

                                        STASIUN TUNTANG         Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...