Nu'aim bin Mas'ud, Sang Propagandis di Perang AhzabKontributor : @mfarisabulkhair
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
Nama lengkapnya adalah Nu'aim bin Mas'ud bin Amir Al Asyja'i. Ia merupakan salah seorang sahabat yang terlahir di keluarga saudagar dari kabilah Ghatafan. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai seorang yang "multitalenta". Hal ini membuatnya mudah berbaur di khalayak ramai terutama di kalangan orang-orang musyrik dan Yahudi Madinah.
.
Seperti yang kita ketahui bahwa Perang Ahzab merupakan peperangan yang paling sedikit jumlah korbannya dibandingkan dengan Perang Badr dan Uhud. Kendati demikian, Perang Ahzab merupakan perang yang paling menegangkan. Pasukan Muslim terjepit karena kepungan musuh dari dalam dan luar Madinah. Tetapi Allah masih memberikan pertolongan, sehingga pasukan Muslim dapat terus bertahan.
.
Parit-parit yang dibuat oleh pasukan Muslim sukses menghadang laju pasukan musyrik. Hal ini membuat pasukan musyrik sangat sulit memasuki Madinah, sehingga minim terjadi kontak senjata. Serangan pasukan Muslim terfokus melalui lontaran-lontaran anak panah. Selain itu, penjagaan ketat pasukan Islam di dalam Madinah berhasil mencegah dampak yang lebih buruk dari pengkhianatan Bani Quraizhah.
.
Pada saat terjadi Perang Ahzab, Nu'aim bergabung dengan pasukan Ghatafan. Hal ini dikarenakan ia masih musyrik pada saat itu dan berasal dari kabilah tersebut. Lalu Allah memberikan ia hidayah, ia merenung lalu memutuskan menemui Rasulullah secara diam-diam untuk bersyahadat. Usai bersyahadat ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Sementara kaumku tidak mengetahui tentang keislamanku ini. Maka perintahkanlah kepadaku apa pun yang engkau kehendaki". Lalu Rasulullah bersabda, "Engkau adalah orang satu-satunya, berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat."
.
Seketika itu pula Nu'aim pergi menemui Bani Quraizhah yang dulunya adalah teman karibnya semasa Jahiliyah. Sesampainya disana ia berkata, "Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian, khususnya antara diriku dan kalian". Mereka menjawab, "Engkau benar."
.
Nu'aim berkata, "Orang-orang Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Negeri ini adalah negeri milik kalian. Disini harta benda, anak-anak dan istri-istri kalian. Kalian tidak akan sanggup meninggalkan negeri ini untuk pindah ke tempat lain. Sementara Quraisy dan Ghatafan datang kesini untuk memerangi Muhammad dan rekan-rekannya, lalu kalian menampakkan dukungan kepada mereka. Padahal negeri, harta benda dan wanita-wanita mereka berada di tempat lain. Jika mereka merasa mendapat kesempatan, tentu kesempatan itu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, mereka pun akan kembali ke negeri mereka dan meninggalkan kalian bersama Muhammad yang akan melampiaskan dendam kepada kalian."
.
"Lalu bagaimana baiknya wahai Nu'aim?" Tanya mereka. Nu'aim menjawab, "Kalian tidak perlu berperang bersama mereka kecuali setelah mereka memberikan jaminan kepada kalian". Setelah itu Nu'aim langsung pergi menemui Quraisy dan Ghatafan lalu menyebarkan isu yang serupa kepada mereka. Mereka mulai termakan dengan tipu muslihat Nu'aim. Tepatnya malam Sabtu, bulan Syawal 5 H, orang-orang Quraisy, Ghatafan dan Yahudi saling mengirimkan pesan. Masing-masing dari mereka meminta jaminan dan dukungan. Tetapi tidak satupun yang mencapai kesepakatan, hal ini dikarenakan hati mereka telah terbelenggu dengan keragu-raguan.
.
Mereka saling mencurigai. Dengan begitu Nu'aim sukses memperdayai kedua belah pihak dan menciptakan perpecahan di barisan musuh, sehingga semangat mereka menjadi turun drastis. Sementara Rasulullah dan orang-orang Muslim selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami."
.
Allah mendengar doa Rasul-Nya dan orang-orang Muslim. Setelah muncul perpecahan di barisan orang-orang musyrik dan mereka bisa diperdayai, Allah mengirimkan angin taufan kepada mereka, sehingga membuat mereka kocar kacir. Allah juga menghinakan mereka dengan menyusupkan perasaan takut ke hati-hati mereka.
.
Nu'aimmembuktikan bahwa Islam tidak kekurangan orang-orang hebat di segala bidang, mulai dari penghafal Al-Qur'an dan Hadits, peramu taktik, panglima perang, hingga propagandis.
.
Referensi:
1. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh (1997). Sirah Nabawiyah
2. Republika.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar