Generasi Shalahuddin
Rahasia Aljazair
"Dengan takluknya Aljazair di tangan Prancis, kita telah membentangkan jalan kepada Paus untuk membuka gerbang kristenisasi Afrika."
—Victor de Ghaisne de Bourmont, Jenderal Militer Prancis
Jarang-jarang kita mendengar tentang Afrika Utara, apalagi tentang sebuah negeri bernama Aljazair. Paling mentok, mungkin kita hanya akan ingat bahwa Aljazair adalah negara asal Zinedine Zidane. Padahal, dalam sejarah Umat Islam, negeri ini adalah salah satu potongan penting yang hilang dari puzzle sejarah kita.
Tidak banyak yang tahu, bahwa Umat Islam selama abad keemasannya menjadi polisi samudera internasional yang tak hanya menjaga negeri Arab. Umat ini juga menjaga keamanan maritim dunia. Negeri Aljazair adalah saksi bisu dari kehebatan itu.
Dalam sejarah Eropa abad pertengahan, Aljazair digambarkan oleh mereka sebagai markas bajak laut (Pirates) yang menghadang kapal dagang kerajaan-kerajaan Eropa. Padahal sebenarnya, di bawah kepemimpinan Kekhalifahan Utsmaniyah, Aljazair disulap menjadi pusat Armada Laut Utsmani yang legendaris. Bukan markas perompak laut sebagaimana Eropa gambarkan.
Negara-negara besar saat itu; Prancis, Austria, Prussia, Russia dan Britania membayar pajak tahunan pada Kekhalifahan Utsmaniyah sebagai jaminan keamanan, dan Aljazair menjadi sentral kekuatannya. Tercatat, Prancis termasuk negeri yang tidak bisa membayar hutang pada Aljzair.
Maka Prancis meminta bantuan poros Eropa untuk berkonsolidasi dalam Kongres Aix-la-Chapelle tahun 1818. Mereka berjanji menjaga soliditas sebagai kekuatan yang harus menjaga Eropa dari dominasi dakwah Kekhalifahan Utsmaniyah.
Bermula dari situlah, Prancis kemudian berabad-abad setelahnya baru bisa menumpahkan balas dendamnya pada Aljazair ketika keadaan Kekhalifahan Utsmaniyah mulai melemah. Eropa mulai maju dengan teknologi canggih dan industri mereka yang didapat dari kekayaan hasil menjajah negeri-negeri muslim.
Prancis masuk ke Aljazair dan melakukan invasi, merobohkan 112 masjid di ibukota Aljazair dan menjadikan 5 sisanya jadi barak tentara Prancis. Salah satu kisah masyhur dalam sejarah Aljazair yang membuka mata kita akan kezaliman imperialisme Prancis adalah kisah 800 penduduk salah satu desa yang bersembunyi di goa demi menyelamatkan diri mereka dari keganasan artileri Prancis.
.
Ketika serdadu Prancis menemukan goa itu, mereka membakar habis semua yang ada di dalamnya hingga tak tersisa satupun manusia yang hidup. Ketika api sudah lenyap, beberapa anak muda melihat sendiri apa yang terjadi dalam goa itu. Dilihatnya semua jasad sudah menjadi gosong, bahkan terlihat mayat seorang ibu yang terbakar sambil memeluk anaknya.
.
Dan kamu masih menganggap Prancis sebagai negara yang menjunjung tinggi "liberte, egalite, fraternite."
.
Di tengah-tengah kecamuk serangan Prancis itulah, muncul seorang pemimpin gerilya yang membuat tentara musuh mengalami kekalahan demi kekalahan. Usianya masih muda, 26 tahun, namun sudah memimpin perlawanan rakyat atas penjajahan Prancis di Aljazair. Namanya adalah Abdul Qadir Al Jaza'iry.
.
Abdul Qadir Al Jaza'iry melakukan serangkaian serangan intensif yang mengagetkan, menghancurkan barak-barak musuh dan membuat Prancis mengganti jenderal mereka berkali-kali. Salah satu taktik Amir Abdul Qadir adalah "The Shifting Capital", berkali-kali memindahkan ibukota Aljazair dari kota satu ke kota lainnya agar Prancis tak bisa mendeteksi dimana sumber kekuatan utama Kaum Muslimin.
.
Namun begitulah musuh-musuh Allah. Mereka tidak bisa berperang dengan gentle. Lagi-lagi cara mereka adalah dengan membakar desa demi desa, membantai distrik demi distrik agar memaksa Abdul Qadir Al Jaza'iry menampakkan jati dirinya.
.
Pada 23 Desember 1847, Abdul Qadir Al Jaza'iry ditangkap oleh militer Prancis, namun perlawanan terus berlanjut. Sang pemimpin kharismatik ini diasingkan ke penjara di Prancis, dan setelah beberapa tahun dibebaskan dengan syarat beliau tidak boleh kembali ke tanah airnya. Abdul Qadir pada akhir hidupnya berhijrah ke Damaskus. Namun, sebuah episode di akhir hidupnya akan membuat kita tahu betapa agungnya Islam.
Di Damaskus, suatu ketika pecah pertikaian antara Kaum Nasrani dan sekte sesat Druze. Banyak orang-orang Nasrani yang dibantai oleh sekte ini. Namun Abdul Qadir Al Jaza'iry menjadikan rumahnya sebagai markas perlindungan kaum Nasrani dari serangan sekte sesat tersebut. Ia melindungi mereka, walaupun dulu Prancis telah membunuh orang-orang yang ia cintai di Aljazair.
.
Ini barangkali salah satu episode sejarah yang sangat jarang kita dengar dan baca. Dan dunia memang tak ingin kita mengingatnya.
Source :
— مائة من عظماء أمة الإسلام غيروا مجرى التاريخ
— Phillips, Walter Alison (1911). "Aix-la-Chapelle, Congresses of". In Chisholm, Hugh. Encyclopædia Britannica. 1 (11th ed.). Cambridge University Press.
— Hanioğlu, M. Şükrü (2010). A Brief History of the Late Ottoman Empire. Princeton University Press. pp. 9–10, 69. ISBN 1-4008-2968-2.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
STASIUN TUNTANG
STASIUN TUNTANG Gemini berkata Senin malam, aku melanjutkan kunjunganku ke beberap...
-
Generasi Shalahuddin @edgarhamas #TodayInHistory situs islamstory.com yang diasuh langsung oleh Dr Raghib Sirjani hari ini memberikan sa...
-
Candi Gedong Songo Magelang, 29 November 2025 Aku dan temanku mengunjungi Kabupaten Semarang. Tepatnya Candi Gedong Songo, tepat di bawah ka...
-
Temanggung Setelah dari Situs Liyangan, aku dan adikku mampir ke Masjid Agung Darussalam Temanggung. Di sana, aku melaksanakan salat Asar, l...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar