Fenomena Pejalan Kaki dari Sumbing
Bagi sebagian warga Magelang, pemandangan rombongan orang berjalan kaki setiap malam Kamis menuju arah Candimulyo tentu terasa asing sekaligus mengundang rasa penasaran. Mengapa mereka rela menempuh perjalanan jauh dari lereng gunung ke bagian gunung yang lain? Tak hanya orang tua, anak-anak pun ikut meramaikan rombongan ini. Mereka berpakaian bebas namun tertutup, sementara sepanjang jalan banyak warga yang bersedekah dengan menaruh hidangan makan dan minum agar para pejalan kaki tetap bisa melanjutkan perjalanan tanpa perut keroncongan.
Lalu, dari mana mereka berasal dan ke mana tujuan mereka? Tujuan mereka adalah Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, untuk menghadiri pengajian rutin setiap Kamis pagi. Sebagian besar dari mereka berasal dari daerah Kaliangkrik, Kajoran, dan Temanggung — wilayah-wilayah yang berada di lingkup Gunung Sumbing. Yang menarik, mereka memilih berjalan kaki bukan karena keterbatasan ekonomi atau tak memiliki kendaraan. Sebagian dari mereka justru adalah orang-orang terpandang di kampungnya. Menurut penuturan teman saya dari daerah sana, mereka melakukan ini sebagai wujud keyakinan dan rasa prihatin. Konon, ada seseorang di sana yang rutin mengaji sambil berjalan kaki untuk menghadiri pengajian, dan doanya pun terkabul — kisah itulah yang menjadi asal-muasal tradisi ini.
Mereka tiba di Mejing pada waktu yang berbeda-beda; ada yang sampai sore, ada pula yang baru tiba malam hari. Mereka menginap di masjid dan di teras-teras rumah warga. Tentu saja mereka telah mempersiapkan perlengkapan menginap seperti baju ganti dan perlengkapan mandi. Untuk urusan makan, tidak perlu khawatir karena sudah banyak pedagang yang berjualan di sana.
Di Mejing, pengajian memang sudah lama diselenggarakan, namun tradisi berjalan kaki ini terbilang baru. Fenomena ini pun menjadi daya tarik tersendiri, bahkan bagi warga dari luar daerah. Setiap malam Kamis, jalanan dipenuhi para pedagang, seolah menjadi pasar dadakan hingga pengajian berakhir — mulai dari makanan hingga pakaian, semua tersedia. Pengajian semacam ini memang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat, terutama di tanah Jawa.
Lalu, apakah mereka pulang dengan berjalan kaki juga? Jawabannya kemungkinan tidak, karena saya belum pernah menjumpai mereka berjalan kaki saat pulang. Kemungkinan besar mereka naik bus-bus kecil yang sudah terparkir dan menunggu ketika pengajian berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar